Dear All,
Saya dan Mas Handoko ternyata sampai juga di Kalibiru yang begitu tinggi letaknya sebab bisa melihat kota Yogyakarta dan Wates (Adikarto) dari jarak jauh. Ada beberapa catatan yang perlu saya sampaikan kepada seluruh keluarga MWK:
1. Masyarakat Kalibiru pernah dikenal sebagai masyarakat yang gemar menebang pohon di hutan kemudian kayunya di jual untuk kepentingan mereka sendiri. Tradisi tersebut kemudian disadari bersama harus diubah, sebab menyebabkan wilayah Kalibiru gundul dan gersang. Sekarang warga sudah berubah dan merasuk semangat serta jiwa baru yaitu menjadi masyarakat yang melestarikan hutan. Sekarang bahkan menebang pohon menjadi semacam pantangan atau larangan di Kalibiru.
2. Perubahan drastis tersebut bukan perkara mudah, konon memerlukan waktu lama. Bukti selama 5 tahun belakangan tidak ada pohon di Kalibiru yang ditebang (masyarakat ngampet tidak menebang pohon) telah berhasil memeroleh pengakuan dari pemda dan masyarakat diberi hak mengelola hutan disekitarnya selama 35 tahun secara mandiri. Tahun ini baru tahun pertama dijalani, mereka sudah menyiapkan lapangan pekerjaan baru yaitu mendirikan desa wisata alam di Kalibiru.
3. Perjuangan mengubah budaya penebang hutan menjadi pencinta hutan termasuk usaha yang sungguh berat. Sekarang setelah situasinya mencapai “nol pohon ditebang” masyarakat membutuhkan lapangan pekerjaan baru. Saya melihat, para pendamping (mas Syuhaimi) sangat intens mendampingi perubahan budaya warga Kalibiru dengan cara yang tepat dan memosisikan warga lokal sebagai aktor utama perubahan tersebut. Ini membanggakan dan mengharukan, sebab orang Kalibiru sekarang menjadi sahabat alam. Kalibiru sekarang hijau dan mampu menjadi penjaga mata air di sisi atas wilayah KP. Hijaunya Kalibiru juga memunculkan banyak mata air baru, yang semula tidak ada !
4. Persoalan yang menghadang warga Kalibiru adalah lapangan pekerjaan. Jika dulu mereka mudah mendapat uang dengan cara menebang pohon, sekarang mereka ngarit untuk memelihara ternak dan menanam tanaman yang dapat menghasilkan uang. Upaya mengembangkan Kalibiru menjadi tempat tujuan wisata alam dengan fasilitas flying fox, gardu pandang, cottage dengan arsitektur lokal dan sebagainya adalah upaya menciptakan daya tarik agar masyarakat memiliki pekerjaan tetap dan berpenghasilan halal.
5. Warga Kalibiru sudah memiliki joglo yang sangat bagus untuk aktivitas budaya, bahkan beberapa warganya juga memiliki bakat seni – budaya. Sedekah Bumi juga direncanakan akan menjadi acara rutin di Kalibiru yang diharapkan mampu memotivasi masyarakat semakin cinta lingkungan dan dapat menjadi daya tarik wisatawan lokal untuk berwisata alam di Kalibiru. Intinya Kalibiru bersiap-siap menjadi tempat wisata alam dan budaya yang memiliki daya tarik (magnet) unik.
6. Joglo sudah ada, greget masyarakat untuk berkesenian juga kuat, tinggal fasilitas perlengkapan berupa gamelan yang belum tersedia. Ada joglo biasanya ada gamelan. Konon seperangkat gamelan yang lengkap dari besi (bukan kuningan) harganya sekitar 12 juta rupiah. Jika saja warga perantauan bersedia gotong-royong membantu pengadaan gamelan ini, maka pada hari-hari yang tidak terlalu lama dari arah perbukitan Kalibiru akan terdengar irama gamelan yang merdu menghiasi alam KP yang puitis.
6. Suara merdu gamelan akan mengundang warga desa-desa sekitar Kalibiru untuk berkumpul, entah menari entah nembang dan sebagainya. Joglo Kalibiru lantas menjadi joglo yang hidup dan menjadi ruang publik yang ramai bagi warga Kalibiru dan desa-desa sekitarnya. Kegiatan masyarakat akan berkembang dengan adanya alunan musik tradisi Jawa yang akrab di telinga masyarakat desa. Akhirnya Kalibiru akan berkembang menjadi pusat kegiatan budaya di area pegunungan !
7. Saya sebagai koordinator MWK di lapangan optimis, warga MWK bisa terketuk hatinya untuk mewujudkan gamelan bagi warga Kalibiru melalui gotong-royong. Ini gerakan yang nyata dan menggerakkan bagian inti dari kehidupan masyarakat di Kalibiru. Jika budaya berkembang ekonomi rakyat juga akan berkembang, maka roda kehidupan keseluruhan juga akan berkembang. Jika dilakukan dengan gotong royong tentu semuanya akan sangat ringan. Seberapapun bantuan dana yang diberikan akan sangat bermakna sangat mendalam bagi kehidupan warga Kalibiru. Ini kegiatan nyata dan investasi dalam budaya, sebab bantuan itu nyata dan mendorong semangat warga. Jika bisa diangkat oleh 12 orang saja tentunya kurang afdol, sebab lebih banyak warga MWK yang berpartisipasi tentulah sangat ideal, semuanya menjadi ringan dan mewujudkan kebersamaan nyata.
Nah, bagi saudara-saudara MWK yang berkenan untuk berpartisipasi dalam salah satu kegiatann berwujud nyata, bisa mengirimkan simpati partisipasinya ke rekening mas Syuhaimi atau lewat rekening MWK yang dikelola mbak Diaz !
REKENING MWK: Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Sudirman, No. 1370098166958 a.n Retno Widiastuti (Mbak Diaz).
REKENING WARGA KALIBIRU: BANK BCA KCP WATES, No.Rek. 8025006654; A.N.AHMAD SYUHAIMI; Mohon setelah transfer konfirmasi saya (Syuhaimi) lewat SMS ke nomor hp: 081328086888
Sithik ora ditampik, akeh saya pekoleh !
Saatnya MWK muncul secara nyata di Kalibiru ????
Salam,
Djarot Purbadi
Catatan: Perjalanan saya kemarin itu bagi saya adalah “nebus dosa” sebab pada pertemuan sebelumnya saya tidak dapat hadir karena acara yang tidak dapat saya tinggalkan. Selain itu ada kewajiban untuk membangun persahabatan nyata dengan komunitas-komunitas real di KP dengan pendekatan yang nyata pula. Saya kira Kalibiru merupakan awal yang baik untuk digulirkan terus sampai KP maju dan berkembang.
bangun terus Kulon Progo mas
monggo mampir nang omahku
By: sudaryadi on April 30, 2009
at 2:10 pm
mudah-mudahan kalibiru bisa lebih mantab lagi, salam dari berau kaltim
By: aris wahyuno on May 22, 2009
at 9:02 am
kalibiru hebat!!!
By: nuzul on July 1, 2009
at 4:25 am
jaya terus kali biru… salam buat pak dukuh
By: suratman clapar on July 12, 2009
at 3:39 am