Posted by: djarotpurbadi | May 17, 2009

Mari Memahami Penambangan Pasir Besi dengan Cerdas

POSTING-15: Sunday, May 17, 2009 8:40 PM

Saudaraku mas Tarko yang saya hormati;

Nuwun sewu mas, untuk praktisnya pertanyaan anda saya tulis dibawah pertanyaan anda:

1. Kl di MJIS – kalimantan saat ini sdh mulai konstruksi, kmrn Wapres
JK yg mulai tiang pancang. kl di jogja apakah sdh mulai pekerjaan
fisik?

JMI akan melaksanakan aktivitas sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ditetapkan didalam Kontrak Karya yang disepakati dengan Pemerintah RI; dimana pada tahun 2009 ini aktivitas JMI akan fokus untuk menyelesaikan Bankable Feasibility Study (BFS) dan Studi AMDAL.

Bila BFS dan AMDAL dapat disetujui oleh Pemerintah RI dan International Market/Pasar Modal..tahun 2010 kami akan memulai proses finalisasi FEED (Front End Engineering Design) ..dan kuartal akhir 2010 kami berharap sudah bisa memulai pekerjaan EPC (Engineering, Procurement & Construction) ..yang kami perkirakan akan memakan waktu 24 bulan.

Jadi pekerjaan fisik secara nyata baru akan ada sekitar medio 2011 dan akan berproduksi disekitar awal 2013. Insya Allah , semoga saya masih diparingi umur oleh Yang Maha Kuasa untuk menyaksikannya.

2. kl di MJIS, 10% adalah porsi kepemilikan utk Pemda Kalsel melalui
setoran inbreng tanah. kl di jogja, apakah pemda KP atau DIY punya
saham? siapa pemegang shm lain?. kl MJIS kan KS – antam dan pemda
kalsel.

Pemda KP tidak memiliki saham di proyek ini akan tetapi Pemda KP akan menerima bagian Royalty dari Pemerintah Pusat dan 1.5% dari sales untuk CSR dan 1.5% dari Sales untuk Regional Development untuk 10 tahun pertama (total 3% dari SALES) dan masing-masing akan naik menjadi 2% setelah 10 tahun (Total 4% dari SALES).

Disamping itu pemerintah akan menerima penghasilan pajak/restribusi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Dan negara/Pemerintah tidak mengeluarkan biaya apapun untuk proyek ini.

Sedangkan PT JMI sendiri sahamnya 30% dimiliki oleh PT JMM (Jogja Magasa Mining) dan 70% dimiliki oleh Indomines Limited (perusahan publik terdaftar di Australian Stock Exchange-ASX ..www.indomines. com.au)

3. lokasi persisnya dimana ya? apakah sepanjang pantai dr galur sd
congot? kl pabriknya sendiri dimana ya? lahan tsb saat ini siapa
pemiliknya ya?

Wilayah Kerja Pertambangan( WKP) berdasarkan kontrak karya dengan pemerintah RI disebelah barat dibatasi oleh K.Serang dan sebelah timur oleh K.Progo dan sejauh sekitar 1.5km ke utara dari bibir pantai selatan dengan luas sekitar 3000HA(ini adalah luasan WKP dan bukan berarti harus ditambang sekaligus 3000HA, luas penambanga per tahunnya tergantung dari kapasitas pabik peleburan besinya)

Pemilik lahan ber-variasi, tapi pada dasarnya JMI tidak punya interest untuk menguasai lahan; Luasan penambangan pertahunnya hanya sekitar 100-200HA (sekitar 3-4% dari luasan WKP). Jadi kalau penambangan dimulai dari Trisik mungkin 20 tahun kemudian daerah Karang Sewu baru ditambang.

Jadi pada saatnya nanti JMI akan berunding untuk kompensasi penyediaan lahan kepada siapapun pemilik/penggarap lahan, seluas 100HA per tahun secara fair, transparan dan terbuka dan accountable (JMI sudah melakukannya untuk pengadaan lahan bagi pilot proyek di Trisik).

Dan bila 10% mineral besi telah kami ekstrak lahan tersebut kami kembalikan kepada yang berhak dengan jaminan bisa difungsikan lagi sebagaimana semula. Tidak ada paksaan jika tidak boleh ditambang juga tidak apa-apa, JMI memiliki pilihan 100HA diantara 3000HA pertahunnya.

Deposit pasir besi dijumpai di sepanjang pantai barat Sumatra dan Selatan Jawa.. dan JMI  diijinkan pemerintah untuk membeli bahan baku darimana saja diseluruh Indonesia..yang penting pabriknya ada di Jogja/KP.

Lokasi Pabriknya sendiri, amat tergantung dari hasil final BSF yang akan dimulai pada JUni/Juli tahun ini.

Nyuwun kathah pertanyaan ipun….matur suwun responnya.

salam

Badhaks

POSTING-14: Sunday, May 17, 2009 8:00 PM

Saudaraku mas Tarko yang saya hormati;

Saya kan mencoba menjawab pertanyaan panjenengan sbb:

1. Core busines dari KS adalah “steel making industry” jadi dalam mata rantai industry besi/baja urutan industry baja adalah setelah industry pertambangan mineral besi dan iron making industry. Jadi hasil produksi “iron making industry” akan menjadi bahan baku dari “steel making industry”

JMI dengan KS sendiri telah mengikatkan diri dalam “Off-take Agreement” dimana bila bila Jogja sudah berproduksi akan mensuply KS dan KS akan membeli hasil produk dari JMI.

Saya sendiri tidak tahu pasti mengapa KS tidak masuk ke Jogja.. tapi secara logika memang pertambangan adalah bukan core busines KS dan diluar kompetensi KS sebagai perusahaan, dan kalau perkiraan saya ini benar..KS telah membuat suatu keputusan yang bijaksana.

2. Investasi untuk Iron/Steel Industry KS adalah kerja sama antara PT Antam (BUMN dibidan pertambangan mineral) dan KS (industri baja) dan beberapa investor lainnya (mungkin).
Mengapa KS memilih di Kalimantan ..adalah diluar kompetensi saya untuk menjawab karena saya tidak memiliki akses terhadap apa yang mendasari kebijakan dari kedua perusahaan diatas.

Di Kalimantan mineral besi ditemukan di alam dalam bentuk “iron ore (batu besi)” dan disana tidak dijumpai “pasir besi”; saya sendiri tidak berani memberi komentar terhadap besaran deposit iron ore di Kalsel; karena sampai saat ini saya belum pernah menjumpai/mempelaja ri jurnal/laporan geologi/eksplorasi yang cukup detail untuk deposit batu besi di Kalsel.

Proses pengolahan/pelebura n mineral besi dengan bahan baku dari batu besi memang sudah dikenal secara baik sejak awal revolusi industri di Eropa. Jadi itu yang mungkin menjadi bahan pertimbangan konsorsium KS/Antam++ memilih Kalsel.

Semoga ulasan ini dapat memuaskan anda dan maturnuwun

Salam;
Bhadaks

POSTING-13: Sunday, May 17, 2009 7:31 PM

Saudaraku mas Amin yang saya hormati;

Maturnuwun dan saya amat menghargai komentar mas Amin; komentar yang cerdas dan bebobot. Saya tidak hanya menyintai pertambangan. . saya juga menyintai pertanian; peternakan; perikanan; perindustrian; lingkungan/kesehata n dan lain-lain bidang yang berguna dan bemanfaat bagi umat manusia.

Saya memimpikan agar semua sektor ini bisa saling sinergi..komplement er ..sehingga bisa membawa manfaat yang optimal bagi kehidupan .. karena pada dasarnya semua sektor ini saling membutuhkan.

Pertanian modern tidak lepas dari dukungan industri perlatan/pertambang an, infra struktur seperti irigasi, pupuk; pembasmi hama; pasar; pendanaan; jalan; sistem transportasi demikian juga peternakan dan perikanan dan perkebunan, dllnya

Industri pertambangan, industri dasar, industri otomotive… manusia yang bekerja disana butuh kecukupan bahan pangan untuk menunjang kehidupannya. .

Baik Pertanian/Peternakan/Pertambangan dan Industri berpengaruh terhadap lingkungan hidup..ekosistem. . cuaca..dan lain-lainnya.

Jadi tidak ada suatu sektor yang mampu berdiri-sendiri. .dan untuk mendapatkan suatu hasil yang optimal dan bermanfaat. Kecenderungan “EGO SEKTOR” adalah hal yang sia-sia…karena tidak ada sektor yang bisa kuat tanpa didukung oleh sektor yang lain-lain.

Manusia adalah mahkluk mulia yang dikaruniai kemampuan untuk berfikir..dan marilah semua persoalan yang muncul kita selesaikan dengan diskusi yang cerdas dan bermartabat. .dan dengan sikap yang “gentlemen”. ..yang membawa manfaat bagi kehidupan bangsa ini.

Maturnuwun & Salam;
Bhadak

POSTING-12: Sunday, May 17, 2009 6:49 PM

Pak Bhadak, nderek bertanya.

Uraian Bapak menunjukan bhw Bpk ahlinya dlm bidang pertambangan ini.
dan uraiannya luar biasa.

Pertanyaan sy:
1. mengapa KS tdk masuk ke jogja ?
2. mengapa KS mlh pilih investasi di Kalimantan?

Menurut uraian bpk, sy simpulkn bhw investasi di kalimantan yg saat
ini dilakukan oleh KS lbh berisiko dan harga iron lbh murah
dibandingkan jogja. kenapa KS yg notabene tuan negeri sendiri tdk
memilih di jogja yg lbh menarik spt yg diuraikn bpk.

Mungkin bpk ada informasi shg bisa menjawab pertanyaan tsb.
terima kasih …

Tarko Sunaryo

POSTING-11: Sunday, May 17, 2009 5:39 AM

Salam,

Dunia pertambangan memang memiliki stereotip seperti itu. Para penambang batubara di Kalimantan misalnya banyak yang turut andil dalam membangun stereotip tersebut. Diperlukan sebuah perusahaan yang benar-benar berkomitmen untuk menjaga aktivitas penambangannya memenuhi standar tinggi pada Quality, Safety dan Environment. Di perusahaan yang misi utamanya hanya mencari selisih pendapatan sebanyak-banyaknya dari biaya produksi dan harga jual, sangat potensial mengabaikan kualitas lingkungan.

Kontraktor
Dalam dunia tambang, wajar mempekerjakan kontraktor dalam tahap-tahap operasinya. Meskipun undang-undang ingin mengurangi pengalihan pekerjaan seperti ini, yang saat ini sedang dalam tarik ulur. Dalam pandangan saya, keberadaan kontraktor yang profesional sangat menentukan mutu operasi dan akhirnya juga hasil. Saya menyarankan, seandainya dipakai perusahaan outsourching dalam operasinya, harus dipilih yang benar-benar profesional meskipun biayanya biasanya lebih tinggi.

Transportasi.
Sebaiknya dari awal harus di pikirkan pembangunan jalur alternatif misalnya kereta api yang mandiri ataupun terintegrasi dengan jalur yang ada menuju pelabuhan atau tempat pengolahan. Dengan adanya jalur ini, beban keamanan, ketahanan fisik dan lingkungan yang berhubungan dengan lalulintas publik tidak semakin bertambah.

Community Development
Selain membayar pajak, manfaat langsung dari keberadaan tambang di tengah masyarakat juga harus di pikirkan. Seperti yang pernah saya sampaikan, komitmen perusahaan ditandai dengan menyisihkan sekian sen dolar dari produksi untuk keperluan CD yang terprogram dengan baik. Artinya entah perusahaan untung atau rugi, masyarakat tetap memiliki hak biaya pengembangan masyarakat (CD).

(Mazab lain mengambil biaya CD dari keuntungan)

Visi Misi Pemilik Perusahaan
Dari sependek pengamatan saya, para pemilik perusahaan yang memiliki kecintaan pada dunia tambang, terdidik dengan benar di bidang ini, besar dari dunia pertambangan, lebih memiliki tanggungjawab terhadap operasi pertambangan daripada yang hanya berorientasi profit apalagi portofolio untuk bermain di bursa sekunder.

Sebuah tambang batubara kecil (dibanding konsesi KPC, Berau dsb di Kalimantan) di Lamphang (Thailand) bisa dikelola sedemikian bagus sehingga masyarakat terberdayakan, lingkungan relatif terjaga dan setelah tutup pun masih ada museum yang manis, jembatan yang indah di lokasinya.

Kontribusi Pak Badhak
Saya membaca, Pak Badhak adalah orang yang memiliki kecintaan dan idealisme akan dunia tambang. Saya akan sangat senang apabila orang seperti beliau ini memiliki posisi yang penting di perusahaan yang nantinya akan mengelola pasir besi di KP. Idealnya, maaf, pemilik perusahaan ini harus se ideal Pak Badhak ini. Kalaupun tidak, beliau bisa merekomendasikan orang-orang yang seide untuk duduk di sana.

Karena sekali lagi, tambang tetap kita perlukan tetapi orang tambang idealis, kuat, berani dan tegas yang mampu mengendalikan mesin tambang untuk berjalan pada koridor yang benar lebih kita perlukan. Karena memenuhi standar tambang yang baik memerlukan biaya yang tidak kecil. Pemilik modal harus rela mengalokasikan biaya-biaya ini.

Terimakasih,
ATR

POSTING-10: Saturday, May 16, 2009 9:39 PM

Mbak Anytri Suwiti yang saya hormati;

Jujur saja saya ingin bertanya kepada mbak Suwiti;

Apakah dalam hidup mbak Sawiti pernah meng-konsumsi atau memanfaatkan produk pertambangan? ?

Saya yakin jawabannya PASTI PERNAH dan MASIH sampai saat ini!!

Pada saat mbak Sawiti mengirim email untuk posting di MWK pasti mengunakan PC atau LapTop atau Notebook… dan apakah mbak Sawiti Sadar kalau PC/Laptop/Note Book anda itu sekitar 60% komponennya dibuat dari bahan/produk tambang???

PC/Laptop anda bisa hidup dengan Listrik, dan listrik dihidupkan karena ada Pembangkit Listrik yang terbuat dari besi dan Baja (he..he..kalau ada pembangkit listrik yang dibuat dari kayu/cabe/getuk tolong saya dikasih tau), dan menggunakan energy yang berasal dari batu bara; minyak etc..yang semua ini adalah produk pertambangan? ??

Saat ini anda menggunakan busana yang indah, yang ditenun dengan mesin-mesin pintal yang dibuat dari besi dan baja, dijahit dengan mesin jahit/jarum dari besi/baja, dan waktu anda membeli kain/busana ini saya yakin tidak jalan kaki..pasti pakai mobil/motor. .atau sepeda ontel yang nota bene juga dibuat besi dan baja…rasanya kok nggak ada mobil/besi/baja dibuat dari cabe atau melon???

Pasti pada saat mbak menulis posting anda sedang bernaung dirumah yang nyaman…yang terbuat dari batu,semen bertulang besi, ada pipa air ada kabel listrik yang berasal dari produk pertambangan. ..???

Kalau mbak Suwiti masih menggunakan menggunakan, mengkonsumsi dan memanfaatkan produk-produk pertambangan diatas dan anda merasa nyaman dengan produk tersebut…nuwun sewu mbak…anda secara nyata memiliki kontribusi dan partisipasi terhadap kerusakan jalan di Kalsel akibat Truk yang mengangkut bahan-bahan tambang,..terhadap kerusakan lingkungan, kemiskinan, kesengsaraan yang katanya akibat pertambangan. ..

Kalau anda masih menggunakan/ memanfaatkan/ mengkonsumsi hasil produk pertambangan marilah kita sama-sama memberikan solusi..bagaimana menambang dengan tidak merusak jalan..bagaimana menambang berdampingan komplementer dengan aktivitas-aktivitas lain..bagaimana menambang dengan menjaga kelestarian lingkungan.. .etc..etc Jadi tidak hanya mengkritisi atau pakai ilmu pokok-ee tanpa memberikan solusi…apakah itu yang dinamakan jujur ???

Alangkan MUNAFIKnya dalam hidup ini..kalau kita mengkritik/ mencerca/ menghujat tapi dalam kehidupan sehari-hari dengan nyaman dan dengan wajah tanpa dosa kita memakai/memanfaatka n hasil proses dari produk yang kita kritisi atau kita cerca.

Saya yakin orang tua kita..agama kita tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi manusia HIPOKRIT

Salam;
Bhadak

POSTING-9: Saturday, May 16, 2009 9:40 AM

Setuju dan tidak setuju sudah hal yang biasa. Yang penting ada alasan tepat dan nyata. Yang jelas tidak ada keinginan untuk merugikan masyarakat. Bagi yang tidak setuju mari kita pikirkan bagaimana memberikan sosuli alternatif yang riil bukan sekedar wacana. Nek mung wacana ya susah. Negara kita ini sudah terkenal dengan “Negeri seribu wacana, sejuta slogan tapi miskin realisasi”

Hayo siapa yang punya solusi riil ?

Mas niek

POSTING-8: Saturday, May 9, 2009 8:24 AM

jujur saja saya agak kurang setuju dengan adanya tambang pasir besi,di kp. bukan apa, apakah social benefitnya lebih tinggi dari social costnya? kalo itung-itungan di ats kertas si bisa aja .but kalo jalan rusak karena dilalui truk gedhe2, apakah dep PU mau mbetulin jalan ? jangan 2 nanti malah saling lempar, ujung-ujungya rakyat yg jadi korban. trus , apa manfaat langsung yang diperoleh rakyat setempat, ? dipekerjakan jadi security ? sopir?

di Kalimantan Selatan saja rakyat sampai protes supaya dibikinkan jalan khusus truk batubara. OK lahan disana masih luas, but di sini , apa nanti mau lewat jalan dendels sono , (jalur selatan) apalgi ini proyek multiyears , anak cucu kita yang akan mengelola, saya yang tiap 4 bulan pulang kampung, menikmati jalan tol di wates sana..mudah- mudahan gak jadi males gara2 adanya tambang pasir besi. Keindahan dan dan keaslian pantai akan hilang hanya karena faktor ekonomi.

itu saja unek-unek dari saya.

anytri sutiwi

POSTING-7: Friday, May 8, 2009 12:53 PM

Pak Agus Yth;

Maturnuwun untuk response anda,…..negara kita saat ini masih impor bahan baku baja berupa Iron Pellet, Iron Sponge, Pig Iron dan besi scrap sekitar 4 juta ton per tahun. Dimana shipment cost dari negara asal sekitar $30 sampai $80/ton.

Dikatakan oleh pak Agus bahwa perbedaan harga btbara antara Kalsel dan Jogja sekitar $15/ton, berarti dari nilai shipment saja masih ada margin yang menarik dan margin ini ada di negara kita …berati ada pajak yang dibayarkan ke negara.

Kalau Iron making Industri di Kalsel produksinya sekitar 600,000Ton/th dan Jogja 1 juta ton/thn, dan bisa diwujudkan ; dari cost shipment saja bisa dihemat pengeluaran devisa minimum sebesar 1,6juta x US$ 25 = $ 40 juta per tahun; atau sekitar Rp 400 milyar pertahun atau sekitar 10x lebih PAD Kulon Progo.

Salam;

Bhadaks

POSTING-6: Friday, May 8, 2009 9:11 AM

Matur nuwun Pak Bhadak atas penjelasannya. Saya memang kemarin2 agak khawatir kalau end product kita kurang competitive mengingat komponen biaya yg terbesar di melting process adalah bahan bakar, sedangkan perbedaan harga batubara di Banjarmasin dan Yogya per metric ton nya lebih mahal sekitar USD 15 an.

Ditambah lagi biaya sosial di tempat kita yang relative tinggi, karena (mungkin) ketidak mengertian temen2 petani di pesisir, dengan mengadakan demo2.
Btw, mudah2an KP mendapatkan yg terbaik dari proyek tsb.
Salam,

AHS

POSTING-5: Friday, May 8, 2009 7:19 AM

salam MWK, nimbrung….

Lepas dari fakta kontrak karya beserta langkah-langkah pemegang otorita yang dilindungi hukum dan itu harus jalan terus,…, ini juga fakta sekilas cerita dari lapangan yang saya dengar, penduduk/ orang-orang yang tinggal disekitar wilayah penambangan dan atau sekitar lokasi pilot project pasir besi itu memang nganyelke, ngeyel dan waton suloyo. Beberapa waktu yang lalu pemkab dan pihak terkait bermaksud memperjelas status tanah yang konon sebagian adalah PA ground. Tapi apa yang terjadi, ketika program tersebut disosialisasikan dan pendataan dimulai, mereka ramai-ramai menolak. Padahal pendataan tsb tidak lain bermaksud memperjelas dan memberikan status hukum atas tanah pesisir tsb. Selanjutnya penduduk yang tinggal disana kemudian akan diberi surat kekancingan magersari dari PA dan boleh tetap tinggal disana, dan penduduk yang bisa menunjukkan surat bukti kepemilikan yang syah ya silahkan…tetapi apapun gerak pemerintah rupanya selalu dianggap salah, dicurigai dan dilawan….katanya surat kekancingan akan jadi alat baru untuk menggusur mereka…… hallllaaaahhh. .siapa sih provokatornya?

Pasir besi maju terusss…!! !

salam damai
KJG.

POSTING-4: Thursday, May 7, 2009 6:02 PM

Pak Agus YTh;

End Product dari Iron Project di Kalimantan dengan Jogja agak berbeda.. di Kalimantan akan berupa Iron Pellet (60%-70%Fe) sedangkan di Kulon Progo akan berupa Pig Iron (>90%Fe); dari segi harga juga akan berbeda… saat ini harga FOB Iron Pellet disekitar $200-250/Ton; sedangkan Pig Iron Sekitar $350-400/ton

Main Feedstock Bahan Baku diluar batu bara juga berbeda; di Kalimantan berupa batu besi (iron ore) dimana penyebaran mineral resource nya di alam tidak homogen dan merata; sehingga proses penambangannya akan lebih berisiko dan mahal. Sedangkan di Jogja bahan bakunya berupa pasir besi yang penyebaran cadangan di alam merata dan homogen sehingga resiko keberhasilan penambangan rendah.

Process pembuatan Pig Iron dengan bahan baku 100% pasir besi secara komersial baru dilakukan pada tahun 1970 oleh New Zealand Steel; dan technologinya pada saat itu diketemukan oleh Lurgie Metal; sekarang masih menjadi satu-satunya didunia iron making plant yang menggunakan bahan baku 100% dari pasir besi. Saat ini Lurgie Metal sudah di akuisisi oleh Outokompu yang juga merupakan pemilik dari Outotec. Sehingga paten technologi processing pasir besi menjadi base metal; saat ini dimiliki oleh Outokompu.

Pada project Jogja Outokompu juga menjadi pemegang saham dari Investor Company (sekitar 5%) hal ini akan menjamin kelayakan teknologi Iron Making Plant yang memakai 100% pasir besi; dan Jogja Liquid Iron Plant akan menjadi pabrik kedua didunia setelah New Zealand yang memakai bahan baku utama 100% pasir besi.

Dari segi keekonomian yang dibuat pada scoping study dengan kapitalisasi sekitar $600juta dan biaya Operasi sekitar $200/Ton ( termasuk haga batubara 5000cal, $40-60 CNF Jogja ); dengan harga jual $300/ton FOB Jogja; dan inital production 600,000 ton – 1juta Ton pertahun masih menghasilkan parameter keekonomian NPV dan IRR yang amat menarik dan layak.

Kalau memang Iron Making Project di Kalimantan dan Jogja dapat terwujud ini merupakan langkah awal untuk kemandirian nasional dalam industri dasar logam; karena saat ini kita masih tergantung 100% dari import untuk penyediaan bahan baku logam baja/besi;saat kita menjual export raw feedstock batu besi/pasir besi dengan harga antara Rp 400-600/kg FOB dan mengimport kembali dalam bentuk iron pellet/pig iron dengan harga sekitar Rp 2500 -4000/kg FOB (belum termasuk shipment cost)… alangkah ironisnya

Dengan membangun Integrated Iron Making Industry adalah langkah awal kemandirian dibidang Industri Dasar; dan ini adalah langkah awal menuju Indonesia Super Power…

Salam;
Bhadaks

POSTING-3: Thursday, May 7, 2009 5:00 PM

P Bhadak yth,

Saya dengar, bersamaan dengan proyek pasir besi tersebut, saat ini di Kalsel mau dibangun juga pabrik billet dengan nama PT Meratus Jaya Iron. Main contractornya KEC dan consultant nya Outotec. Pertimbangan dibangun di Kalsel, untuk mendekati sumber energy yg dipakai (batubara), supaya HPP nya turun.

Pertanyaannya, apakah biaya produksi billet yg berbahan baku pasir besi kita nanti cukup kompetitif dibanding pabrik lain ( misalnya Meratus), kalau pabriknya di Sentolo ?. Karena biaya transportasi utk batubara dan pasir besinya pasti lebih mahal.

Mohon diberi gambaran bila berkenan,

Salam,

AHS

POSTING-2: Thursday, May 7, 2009 2:33 PM

Mas Jarot dan keluarga MWK Yang saya Hormati,
Assalamu alaikum WW, Salam Sejahtera;

Pertama, saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena sudah beberapa waktu tidak mengucapkan salam kepada rekan-rekan MWK di Milis ini.
Sejak ditanda tanganinya KOntrak Karya antara Pemerintah RI dan Investor pada 4 November 2008; sebenarnya tugas saya secara full-active di proyek ini berakhir..karena memang saya hanya bersedia membantu secara full active day to day pada proyek ini sampai proyek ini mendapatkan legalitas secara formal dari Pemerintah RI..dan setelah itu saya hanya bersedia sebagai advisor saja..; karena masih ada aktivitas lain yang harus saya kerjakan dan impian-impian yang saya ingin realisasikan.

Dengan telah ditanda tanganinya Kontrak Karya untuk pengembangan Liquid Iron Project Jogja (LIPJ); maka telah ditetapkan legalitas dan aturan main dari proyek ini yang menjadi acuan bagi pelaksanaan pengembangan proyek. Dan pada tahapan awal sebagaimana dipersyaratkan dalam Kontrak Karya.. investor dalam hal ini PT Jogja Magasa Iron (JMI) harus menyerahkan laporan hasil Preliminary Survey dan Eksplorasi kepada Pemerintah cq Menteri ESDM; dimana laporan ini berisi hasil atas evaluasi dan analisa cadangan mineral terukur pada daerah Wilayah Kerja Pertambangan (WKP).

Dimana Studi Perhitungan Cadangan Mineral terukur ini berdasarkan hasil eksplorasi yang harus dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis eksplorasi mineral dengan standard yang diakui baik secara nasional maupun internasional.
(Untuk saat ini kecuali di Amerika; digunakan standard yang berdasar JORC – Joint Ore Reserve Committe;..dimana JORC standard ini terbentuk setelah adanya kasus Busang..yang merupakan kasus manipulasi perhitungan cadangan mineral..yang cukup menggoncangkan financial market di sektor pertambangan) .

Dan juga dari konklusi cadangan mineral terukur dapat dipastikan nilai asset mineral yang dimiliki oleh Negara pada WKP tersebut.

Alhamdulilah Laporan Hasil Eksplorasi yang disampaikan kepada Pemerintah RI/Menteri ESDM pada Januari 2009, setelah melalui pembahasan dan diskusi teknis dan ilmiah dengan para pakar tambang, Laporan Eksplorasi Investor diterima dan disetujui oleh Pemerintah RI/Menteri ESDM pada awal bulan Mei 2009.

Setelah kelayakan hasil eksplorasi dapat diterima oleh Pemerintah, selanjutnya investor harus melakukan Bakable Feasibility Study(BSF) dari aspek Administrasi /Teknis/Ekonomis/ Finansial/ Sosialdan AMDAL; dimana berdasarkan Kontrak Karya investor diberi waktu selama 1 tahun sejak disetujuinya Laporan Eksplorasi oleh Pemerintah RI.

Dimana hasil BSF dan studi AMDAL ini harus disetujui oleh Pemerintah RI dan juga oleh Financial Market untuk mendapatkan pendanaan/kapitalis asi pengembangan proyek lebih lanjut.Studi AMDAL akan menghasilkan pedoman Manajemen dan Monitoring Lingkungan yangbila disetujui oleh para stakeholder akan dijadikan acuan bagi pengelolaan lingkungan pengembangan proyek.

Setelah persetujuan BSF dan AMDAL diperoleh dari Pemerintah dan stakeholder yang lain, investor baru bisa melaksanakan aktivitas proyek lebih lanjut yang berupa Finalisasi FEED (Front End Engineering Design) dan EPC (Engineering, Procurement & Construction) .

Dan tahun 2009 ini aktivitas pengembangan proyek akan fokus pada penyelesaian BSF dan Studi AMDAL yang akan dimulai pada awal Juni 2009.

Demikianlah Mas Jarot dan rekan MWK yang saya hormati, status dari pengembangan dari LIJP..pada saat ini; Mewujudkan impian ini tidak mudah, masih panjang jalan yang harus ditempuh.. Situasi ekonomi global/domestik, politik, sosial pada tahun ini kelihatannya kurang bersahabat bagi iklim investasi di Indonesia saat ini..tapi kita harus tetap optimis ..kalau kita mau ..insya Allah kita bisa mengatasi semua kesulitan dan tantangan ini.

Tapi direct investasi harus tetap kita dorong dan upayakan karena tanpa adanya direct investment disektor riil…pertumbuhan dan kesempatan kerja akan “stuck” dan “unemployment” akan menjadi ancaman bagi kondisi sosial ditanah air kita.

Salam Hormat;
Boedi T alias Bhadak T

POSTING -1: Rabu, 6 Mei, 2009 20:37:42

Dear Pak Badhaks,

Sudah lama kita tidak jumpa dan tukar wawasan. Bagaimana kabar kemajuan atau kemunduran kegiatan pasir besi yang konon secara konsep akan memajukan KP secara substansial dan berkelanjutan ? Kita yang hadir di pertemuan Jurugan pastilah sudah paham betul hal itu, tetapi saya kira ada satu hal yang masih perlu diklarifikasi lagi, yaitu soal karakter kontrak yang dikaitkan dengan konsep penambangan ramah lingkungan sekaligus patriotisme melawan ketergantungan dari negara lain (kemandirian RI dalam bidang insudtri logam).

Saya melihat ada satu hal yang harus panjenengan jelaskan: apakah bisa dituliskan dengan bahasa yang musah perbandingan antara kontrak Freeport dengan kontrak di Paris Besi di KP. Saya kira banyak warga KP di perantauan yang memerlukan informasi itu, khususnya apakah aktivitas penjenengan sami mawon dengan Freeport atau ada kemajuan yang signifikan ? Mana saja yang signifikan secara kualitatif dan kuantitatif serta dalam jangka pendek dan panjang. Mungkin bisa ditulis dengan beberapa tulisan berseri dan saya kira blog resmi MWK akan memuatnya, sebab kami berperan menjadi jembatan informasinya !

Apalagi Bakor PKP yang menjadi koordinator warga perantauan pastilah memerlukan informasi segamblang-gamblang nya sedetil-detilnya tentang perbandingan itu. Saya kuatir, aktivitas panjenengan dibaca dengan kacamata buram, artinya ketika orang membaca usulan aktivitas panjenengan di dalamnya sudah ada apriori karena kasus freeport memang gombal banget. Jadi ya tidak jernih. Contohnya, Freeport menggempur gunung tembaga/emas dan bahan-bahan alami itu langsung masuk kapal terus dibawa keluar Papua sehingga no body knows yang ada di dalamnya. Lha di KP, pasir besinya tidak dibawa kemana-mana, hanya di pabrik peleburan di KP, sewaktu-waktu bisa dilihat warga masyarakat dengan nyaman. Kalau nemu keris ya bisa diambil dst dst dst…..Jadi menurut penjelasan panjenengan prosesnya sangat transparan begitu mau diragukan apa lagi !!!

Mohon dijelaskan secara khusus point-point penting kemajuan kontrak / aktivitas anda dibandingkan dengan Freeport, siapa tahu sinar terang untuk kemajuan KP semakin terang dan sungguh membawa kemajuan sejati !

Salam,

Djarot Purbadi


Responses

  1. mas saya mau tanya nih. saya orang daerah dari bengkulu,saya pumya lahan untuk dikembangkan pasir besi..gmn ya caranya??trs dimana saya bisa mendapatkan mesin untuk kegitan pengolahan nya? dan pemasaran nya kemana ya??mohon bantuan nya mas

  2. Cari pemasok pasir besi fe 60up dlm jmlh bsr n kontinyu. Hub. ediz2007@gmail.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: