Posted by: djarotpurbadi | October 6, 2011

Pengolahan Pasir Besi

Mas Sunaryo, terima kasih atas tanggapannya. Tentang ongkang-ongkang 30 tahun itu dramatisasi dari saya. Jelas saya yakin, para saudara kita di KP tidak akan seperti itu, sebab jika itu terjadi maka mitos tentang “pribumi malas” yang dihembuskan kolonial jaman dulu terbukti. Ilustrasi saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada sejumlah kenyamanan yang bisa dinikmati para petani dengan keterlibatannya di industri penambangan pasir besi itu. Pasir besi itu sudah ratusan tahun terletak di tempat itu, menunggu kapan diolah dan dimanfaatkan. Jika bukan kita, akan datang generasi yang lebih cerdas memanfaatkannya, sokur jika itu anak-cucu kita sendiri.

Tentang keadilan dan realisasi serta keberlanjutan “saham” petani dalam industri pasir besi sebagian konon sudah diatur dalam berbagai aturan yang muncul. Persoalannya: bagaimana peran Pemkab KP dalam menjembatani kepentingan berbagai pihak. Ini tantangan bersama, bagaimana pemkab dapat menjadi pelindung rakyat dan alam KP untuk memajukan daerah dengan cara yang inovatif dan cerdas. Jika keberpihak pemkab tidak jelas, misalnya hanya memihak diri sendiri, bukan kepentingan rakyat atau yang lebih besar, maka bisa runyam jadinya. Model negeri jiran bisa diperjuangkan untuk dipakai di KP, asalkan pemkab mau berjuang bersama rakyat !!!

Salam,

Djarotp

From: tarko sunaryo <tarko.2006@gmail.com>
To: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Sent: Thursday, October 6, 2011 11:56 AM
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne

Maaf Pak, kl petani selama 30 thn ongkang2 sj mk akan kehilangn keahlian dn semangatnya u bertani dn jd bangsa yg malas.
30 thn lagi bapak2 petani tsb sdh sepuh, dan krn ongkang2 sj kehilangn kesempatan mewariskn keahlian dn kreativitas bertani kpd pemuda. selama tiga puluh thn akan lahir generasi yg malas krn melihat orang tuanya tdk kerja tp punya uang.
seharusnya tambang ini hrs tetap mmberdayakn petani. petani hrs tetap bisa menggarap lahan disela2 aktivitas pertambangn. sy pikir byk ahli yg bisa cr solusi dan berkreasi agar dua aktivitas ini bisa jln.
sy asli krembangn, Bapak sy asli buruh tani dn dagang sedikit hsl tani. petani mikirnya sederhana, bgmn agr aktivitas bertani tetap jln. simple, sederhana ciri khas masyarakat desa. tp ini yg mmbuat sustainable. terbebas dr hingar-bingar krisis ekonomi dunia. paling banter hy mikir knp harga cabe naik turun, tp praktis kehidupanya tercukupi. kl disuruh bekerja sbg pekerja industri apalgi kmd terjadi perubhn sosial budaya ke kehidupan industrialisasi sy rasa tdk siap.
ini challenge bg para ahli tambang u mensinergikn dua aktivitas yg berberbeda.
satu hal lg, konsep ganti untung atau ganti rugi hy terkesan akan meminggirkn para petani lahan ini yg mmbuat beliau2 sbg penonton atas aktivitas tambang. janji ganti untung atau ganti rugi blm tentu terealisasi krn ini perlu komitmen dn kesungguhn investor.
konsep kemitraan atau partnership dgn melibatkn petani mgkn bisa jd alternatif. petani diperankn sbg pemilik tambang selain investor. kepemilikn tdk hrs dlm bentuk setoran uang, krn ga mungkin petani punya dana lebih dn berkemauan u keluar uang. lahan produktif pertanian tsb dinilai sebagai setoran modal, sbg kontribusi petani dlm aktivitas tambang, dn selain dpt ganti untung jg akan dpt pembagian hasil saat aktivitas produksi tambang, selain msh tetap bisa bertani.
konsep ini akan melahirkn semangat memiliki di kalangn petani shg akan mmbuat petani u menyegerakn proyek bukan menolak. semangat handarbeni ini akan membuat relasi partnership antara investor dn petani.
konsep tsb relatif baru dn blm byk berkembang di Indonesia, krn dari dulu konsep proyek adalh ganti rugi-penggusuran. uang gusuran relatif tdk byk dn habis ketika diterima dn setelah tergusur kehilangn sesuatu dlm kehidupanya selama ini. pemilik / penguasa lahan mjd terpinggirkn, tdk ayal byk penolakn atau protes.
mnrt para ahli di UGM, konsep partnership pemilik lhn dn investor ini sdh byk berjalan dan digunakn di negeri jiran. makanya proyek2 jln tol disana sangat cepat selesai dn tdk terkatung2, berbeda dgn Indonesia, meski jiran ini belajar bikin tol di Indonesia tp tolnya lebih pjg.
mhn maaf kl kurang berkenan,
salam

On Oct 6, 2011 8:33 AM, “Djarot Purbadi” <dpurbadi@yahoo.com> wrote:

Mas Nur terima kasih informasinya. Tentang rencana ke depan JMI sampai saat ini kita tidak banyak yang tahu. Setahu saya, JMI memang memprioritaskan warga KP untuk bekerja di industri pasir besi ini, tentu dengan saringan yang profesional. Mereka bahkan merencanakan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang akan bekerja di industri tersebut. Saya kira sudah sejak tahun 2006 (?) via weblog MWK sudah diberitakan dengan cukup jelas, bagaimana langkah ke depan industri pasir besi di KP, yang diharapkan menjadi lokomotif ekonomi bagi KP dan nasional. Konseptornya menurut saya sudah cukup hati-hati merumuskan konsep pengolahan yang mengadopsi trend isue masa kini dan ke depan. Persoalannya, kadang terjebak pada istilah-istilah yang dipersepsi atai berkonotasi keliru, sebab pihak-pihak yang berkomunikasi kadang beda paradigma atau sudut pandangnya. Contohnya, JMI menawarkan konsep GANTI-UNTUNG, sedangkan konsep yang selama ini beredar adalah GANTI-RUGI. Dijelaskan sampai kelelahan-pun, konsep baru akan tetap belum biss atau sulit dimengerti ketika lawan bicara masih menggunakan cara pandang lama. Contoh lain: PEMBEBASAN LAHAN seperti yang mas Nur tiliskan. Terminologi ini perlu dijelaskan bagaimana MAKNA BARU yang ada di dalamnya. Konotasi “pembebasan lahan” seolah-olah JMI membeli lahan warga dan menguasainya sepanjang masa, padahal dalam konsep yang saya dengar, JMI tidak akan pernah MEMBELI LAHAN untuk dikuasainya sekitar ratusan hektar (lupa, cek di weblog MWK) yang mengandung pasir besi (iron sand). Pasir besi itu akan ditambang habis sekitar 30 tahun, jadi buat apa menguasai lahan yang sudah tidak ada pasir besinya, jika tidak ada skenario lebih jauh lagi. Saya kira, jika pasir besinya sudah ditambang “habis” maka menunggu sekian puluh tahun lagi untuk berakumulasi kembali (itupun jika Merapi masih mau meletus). Artinya, pasca penambangan pasir besi, lahan di pantai selatan KP itu akan menjadi lahan pertanian yang sangat subur, karena menurut teori lahan berpasir akan menjadi subur jika kandungan pasirnya dikurangi sampai batas tertentu. Sekarang memang terkesan heroik, berhasil menemukan teknologi yang mengatasi masalah lahan pasir untuk bertani, bertanam lombok di lahan pasir, ini memang bagus.tetapi sempit cara pandangnya. Pengelolaan industri pasir besi JMI sebenarnya bisa disinerjikan dengan para petani. Petani menyewakan tanahnya 30 tahun untuk diambil pasir besinya, mereka ongkang-ongkang 30 tahun nggak kerja panas-panas di lahan pertanian tetapi hidup layak dengan uang JMI, setelkah 30 tahun lahan mereka dikembalikan dalam keadaan yang subur !!! Memang yang gelisah tentunya para pelaku bisnis non pertanian, para pedagang lombok kehilangan tempat produksi karena para petani nggak memproduksi lombok, sedangkan mereka hidup enak 30 tahun karena terjadi proses penyuburan lahan oleh JMI dengan cara mengambil pasir besinya. Perlu dicatat, pabrik pengolahan pasir besi di KP akan terus bertahan, sebab pasir besi bisa didatangkan dari area yang luas, terbentang sepanjang pantai dari sabang sampai Blambangan, Jadi, anak-anak KP yang bekerja di industri pasir besi masih terus bekerja sejauh Merapi masih memuntahkan berkah pasir besinya. Jika Merapi berhenti memproduksi pasir besi, barulah industri pasir besi turun intensitasnya. Kira-kira begitu njih pak Badak, saya hanya menuliskan memori pertemuan dulu itu.

Salam,
Djarotp

From: “nursasmito@yahoo.com” <nursasmito@yahoo.com>
To: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, October 5, 2011 4:23 PM
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
Instalasi masih berjalan mas, saat ini dijaga satuan brimob polda, tiap hari ada yg jaga dr brimob, saat ini jmi sudah membebaskan lahan baru di desa karangwuni, sudah mulai dibangun instalasi yg lebih besar dr yg di trisik,
Demikian infonya, produksi yg dikarangwuni prediksi 100 ton per bulan, kurang tahu mau dikirim kemana ,oleh jmi,
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From: Djarot Purbadi <dpurbadi@yahoo.com>
Sender: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Date: Wed, 5 Oct 2011 16:58:14 +0800 (SGT)
To: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com<milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
ReplyTo: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne

Mas Marcel, kami beberapa teman MWK pernah berkunjung ke instalasi penelitian yang dibangun JMI. Pada waktu itu kami diajak berkeliling di dalam lokasi mereka. Di sana ada instalasi yang bisa dilihat dengan jelas, bisa ditanyakan segala sesuatunya, termasuk melihat seperti apa pasir besi yang disaring dengan peralatan yang ada. Logikanya, menggunakan magnet besar untuk mengikat parir besi. Jika kita punya magnetlalu kita gulungkan di pasir besi, han butirar besi aakan menempel di magnet itu lalu yang tanah tidak menempel. Logika prosesnya kan begitu, nggak menggunakan bahan kimia apapun, selain menggunakan air untuk memproses skala besar. Pada weblog https://realmwk.wordpress.com ada foto-foto tentang instalasi dan bukit pasir yang sudah dipisahkan dari tanah. Kami juga diberitahu, bagaimana sampelnya dan dikirim ke mana (Jerman, kalau nggak salah) untuk diperiksa.

Kita kadang memang aneh, pernah ada yang curiga bahwa diantara butir-butir pasir besi ada emasnya, yang seolah-olah disembunyikan oleh JMI. Saya sendiri tidak tahu, apakah logis diantara butir pasir juga ada kandungan butir emasnya. Penjelasan konseptornya (Pak Budi) memang mengatakan, diantara butir bijih besi ada kandungan logam lain yang harganya sangat tinggi (bahkan lebih tinggi dari emas, menurut persepsi saya), yaitu panadium. Logam ini sangat langka dan hanya sedikit prosentasenya dibandingkan dengan butir pasir besinya. Saya tidak tahu, apakah instalasi pt JMI itu masih ada, sebab pernah ada berita bahwa instalasi itu diserbu sekelompok warga dan dirusak. Ini sangat disayangkan, dan menambah deretan penilaian negatif bagi kita sendiri.

Salam,
Djarotp

From: anton marcellinus <anton_marcellinus@yahoo.com>
Sender: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Date: Wed, 5 Oct 2011 15:14:03 +0800 (SGT)
To: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com<milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
ReplyTo: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
To : all Yth..
Mari pak tindak lanjut kita akan sejauh mana untuk berproses pada kekayaan alam kita, saya ada pengalaman di iron sampai steel making.

trims,

anton k., marcell_

Mas Nur dan sahabats,

Menurut saya, kita punya pandangan sama: kepentingan lokal diperhatikan, namun harus juga memperjuangkan kepentingan bersama sebagai satu warga dalam negara yang sama. Kita tentu tidak rela, ketika kepentingan negara mengabaikan kepentingan warga lokal, maka ada ketidakadilan. Demikian juga, ketika kepentingan lokal dipentingkan dan mengabaikan kepentingan negara, maka di situ juga ada ketidakadilan. Sebaiknya kita bincangkan dengan kepala dingin, hati yang wening, supaya perkaranya terang benderang dan hanya dipandu satu kepentingan, yaitu kepentingan untuk maju bersama sebagai warga lokal dan sebuah negara yang sama. Jangan terjadi tirani mayoritas atas minoritas, demikian juga tirani minoritas atas mayoritas. Warisan alam berupa deposit pasir besi itu sudah jutaan tahun terletak pada tempatnya, jika tidak kita manfaatkan sangat disayangkan. JIka bukan kita yang memanfaatkan, semoga anak cucu kita masih bisa mengambil berkahnya.

Salam,
Djarotp

From: “nursasmito@yahoo.com” <nursasmito@yahoo.com>
To: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, October 4, 2011 3:01 PM
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
Yang sekarang terjadi baru pengambilan konsentrat, adakah yg bisa memberikan penjelasan teknis dan ekonomisnya
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Dear sedulur MWK,

Jika mau tahu yang sebenarnya, apakah penambangan pasir besi akan mendatangkan manfaat atau mudarat, ya perlu ada kajian tentang banyak hal. Misalnya tentang pertanyaan: apakah kontrak penambangan pasir besi lebih maju atau lebih baik dari kontrak penambangan PT Freeport ? Ya tentu kita harus mengkaji keduanya dengan detil, sehingga akan diketahui kesimpulannya seperti apa. Apakah cara penambangan pasir besi merusak alam sama dengan yang dilakukan Freeport ? Ya harus dikaji komparasikan keduanya. Freeport itu mengeruk gunung, bahan alamnya masuk kapal dan tidak ada seorangpun yang tahu apa isi kandungannya. Penambangan pasir besi sangat transparan, bahannya dikeruk dari pantai, dibawa ke pabrik pengolahan di KP, bahan bukan pasir dikembalikan ke pantai, di pabrik pengolahan bisa dilihat isi kandungannya apa saja dan berapa saja. Apakah penambangan pasir besi menggusur rakyat ? Ya menggusur sementara, dalam arti tanahnya disewa dengan harga yang pantas (petani selema tanahnya disewa bisa hidup layak tanpa kerja di tanahnya), tanah petani sementara (SELAMA masa kontrak sewa) dikuasai PT untuk diambil butiran besinya, lalu direklamasi sampai siap ditanami kembali, tanah petani masih menjadi milik petani karena memang tidak dibeli. Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab, sehingga petani tetap menguasai tanahnya, alam dikembalikan ke status kesehatan siap tanam, pasir besinya bisa diambil untuk kemaslahatan lebih banyak orang: sekabupaten, se DIY bahkan se Indonesia. Mengapa se Indonesia ? Ya, karena pengolahan pasir besi KP akan membuat Indonesia bisa mandiri dalam industri logam !!! Ini bisa jadi cita-cita, sebab selama ini Indonesia adalah pembeli besi yang taat, sehingga yang untung adalah para pedagang besi !!! Begitu cerita pak Budi dalam pertemuan di MWK dulu.

Salam,
Djarotp

From: sum yono <yon150501@yahoo.com>
To: “milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com” <milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
Cc: “heri-sutanta@yahoo.com” <heri-sutanta@yahoo.com>
Sent: Tuesday, October 4, 2011 12:59 PM
Subject: Re: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
Saya sih mohon kepda pihak2 yang berkepentingan untuk mengkaji kembali antara manfaat dan mudhratx pasir besi itu di tambang.Jangan kantong investor yang gendut tapi masyarakat di sekitarx menderita berkepanjangan.
Jadi sesuai dengan UUD 45 bumi dan air dpergunakan sebesar2x untuk kemakmuran masyarakat/rakyat.

Tanggapan:

Nyuwun sewu para kadang, saya matur sedikit saja. Konsep tentang penambangan pasir besi di KP pernah dibicarakan dalam pertemuan MWK beberapa tahun yang lalu. Konsepnya memang “lebih maju” dari kontrak penambangan yang lain, menurut konseptornya. Konsep pengelolaan pra penambangan, saat penambangan dan pasca penambangan dsb memang diceritakan lebih ramah lingkungan, ramah bagi masyarakat lokal dan dikonsepkan mampu mengangkat KP menjadi kabupaten yang makmur. Bahkan Sultan menghendaki instalasi pengolahannya HARUS di KP, supaya efek ekonomi dan transparansi hasil tambangnya akuntabel dan aksesibel. Orang boleh melihat proses pengolahannya, melihat berapa hasilnya, mengunjungi pabriknya yang didesain dengan dilandasi protokol Kyoto (Mas Sigit bisa lebih menjelaskan soal ini). Silahkan kunjungi weblog MWK http://realmwk.wodrpesss.com.

Salam,
Djarotp

From: Mukhlis Barozi <afrizalrm@yahoo.co.id>
To: “milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com” <milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, October 4, 2011 9:05 AM
Subject: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
BETUL…pengalaman saya di bidang konsultansi teknik juga setuju dengan hal itu….belum ada yg namanya habis nambang trus direklamasi secara bener2 pasti aja ada masalah….cuma kalo politik dah masuk ke ranah itu ya..apa yang bisa kita perbuat…wallohu a’lam…

Dari: Akhmad Basuki <akhmad_basuki@yahoo.com>
Kepada: “milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com” <milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
Dikirim: Selasa, 4 Oktober 2011 8:29
Judul: Bls: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
Alangkah baiknya jk kita semua melihat dgn hati yg jernih ini sekedar pengalaman pribadi sya sbagai kontraktor saya belum pernah melihat suatu pertambangan di Indonesia yg pengelolaan pasca diambil tambangnya di rehabilitasi dengan baik.
jika studynya sih melebihi malaikat tapi prakteknya ….. mungkin bs dilihat secara arif bagi semua yg berkepentingan.

bas86

Dari: “nursasmito@yahoo.com” <nursasmito@yahoo.com>
Kepada: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Dikirim: Selasa, 4 Oktober 2011 8:01
Judul: Re: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne
Bagi yang faham soal konsentrat pasir besi, bagaimana cara menjadikan atau memisahkan dr pasir menjadi konsentrat, apakah konsentrat sudah punya nilai ? Apakah caranya sulit apakah merusak alam atau bisa diatur ?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From: Heri Sutanta <heri.sutanta@yahoo.com>
Sender: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Date: Mon, 3 Oct 2011 03:26:59 -0700 (PDT)
To: <milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com>
ReplyTo: milis_warga_kulonprogo@yahoogroups.com
Subject: [MWK] kasus pasir besi sampai Melbourne [1 Attachment]
Poro sedherek,

Tadi pagi saat menunggu tram waktu mau berangkat ke kampus, saya tertegun melihat sebuah poster warna kuning ukuran A4 yg ditempel di papan perhentian tram. Judulnya langsung menarik perhatian saya (walaupun mungkin tidak bagi orang melbourne), yaitu “Kulon Progo Info Night, A Tale of Sand and Who Feed from It”. Ini adalah iklan acara diskusi dan pemutaran film ttg kisruh pasir besi. Penyelenggaranya Melbourne Anarchist Club, organisasi kiri/socialist. Walah, ternyata kasus kisruh pasir besi di kampung halaman sampai juga di Melbourne!

Sayang sekali saya tahunya terlambat, karena acara dilaksanakan tgl 28 Sept. Seminggu kemarin saya naik tram jalur lain, tidak lewat jalan itu. Dalam poster, yg saya lampirkan, disebutkan bahwa masyarakat pesisir meminta dukungan dari masyarakat global, khususnya Australia karena perusahaan Australia-lah yang ikut menanamkan modalnya dlm investasi tsb. Masyarakat Australia diminta menekan supaya keterlibatan perusahaan tsb bisa dibatalkan.

Saya tdk bisa menilai efektif tidaknya aksi tersebut, karena tdk ikut. Tetapi saya  yakin tidak banyak yang datang di acara tersebut karena pada hari rabu sore itu terjadi hujan es dan badai yg terbesar di bulan september selama 50 thn terakhir. Poster semacam ini juga baru pertama kali saya lihat, tetapi mungkin bukan yg terakhir kalinya. Saya tidak ingin menyoroti kasus pasir besinya, terlebih karena saya tidak punya informasi yang memadai. Saya hanya melihat bahwa ada kemungkinan kampanye semacam ini membesar, apalagi kalau sampai ada kerusuhan besar/martir. Hal ini mengingat kekuatan pro-lingkungan (partai Hijau: Green Party) yg sedang di atas angin. Walaupun hanya punya 1 wakil di majelis rendah tetapi mereka menentukan apakah Julia Gilard jadi PM atau tidak. Melbourne merupakan pusat kekuatan dari Green Party dan kelompok socialist.

Kelompok socialist atau anarchist merupakan faksi far left dari partai Buruh yang sedang berkuasa di Australian Federal Government. Merekalah yg selama ini rajin menggalang demonstrasi mendukung Julian Asange dan perjuangan Palestina serta boikot terhadap Israel. Walaupun minoritas dibanding keseluruhan warga, tetapi mereka sangat radikal, tahan banting & tidak mudah goyah dlm perjuangannya.

Contoh kesuksesan kampanye lingkungan di Australia adalah dlm kasus orang utan. Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di Sumatra & Kalimantan telah merusak lingkungan dan juga habitat orang utan. Untuk menyetop konversi lahan besar2an tersebut, di Australia ada kampanya utk memboikot penggunaan palm oil. Mereka sampai beriklan di televisi. Kesadaran yg meluas membuat kampanye masuk ke sekolah2 . Anak saya yg kelas 3 SD pun mendapat tugas membuat presentasi mengenai pengaruh perkebunan kelapa sawit terhadap orang utan. Oh iya, yg lainnya adalah kasus penyembelihan sapi impor bbrp bulan lalu.

Pamflet/poster yg nyleneh2 sudah biasa saya lihat, mulai dari pernikahan sejenis, kongres ateis yg waktunya berdekatan dgn kongres agama sedunia dsb. Khusus poster ini sangat menarik, krn menyangkut wilayah yang saya kenal & pernah telusuri.  Semoga segera ada penyelesaian yg memiliki landasan hukum, sosial, budaya & ekonomi yang kuat.

Mekaten rumiyin, salam hangat,

Heri

Posted by: djarotpurbadi | April 5, 2011

HOT NEWS: Ketua Bakor PKP Baru !!!

Poro saderek ingkang minulyo,

Perlu kawuningan, naliko dinten Minggu, tanggal 3 April 2011, dipun wontenaken rapat Bakor PKP (Badan Koordinator Paguyuban Perantau Kukon Progo) mapan ing Kaperda DIY, Jln Diponegoro 52 Jakarta. Agenda rapat, pemilihan Ketua Umum Bakor PKP, sebagai pengganti almarhum Bpk Hadi Carito, yang telah berpulang ke rahmatullah pada bulan Desember yl. Terpilih secara aklamasi Bp Prof DR Bedjo Sujanto MPd, Rektor Universitas Negeri Jakarta.

Disamping itu, dibentu team kerja, untuk pendirian perusahaan, koperasi dan yayasan sebagai sarana pengembangan potensi dan partisipasi warga perantauan dan warga KP. Adapun team kerja tersebut adalah :

1. Team kerja untuk Yayasan, di ketuai Bp. Agus Triantara SE.
2. Team kerja untuk pembentukan Koperasi, diketuai Bp Supandoyo.
3. Team kerja untuk pembentukan perusahaan, diketuai Agus Hery Sutopo.

Fokus usaha perusahaan yang dibentuk, adalah bidang agro industri, untuk sementara akan bergerak di bidang perdagangan, khususnya hasil bumi dari KP. Oleh karena itu, tentative, nama perusahaan yang akan di ajukan adalah:

1. PT SADEAN PIWETU ADIKARTO
2. PT BANGUN BUMI ADIKARTO
3. PT BANGUN BUMI KULONPROGO.

Diharapkan upaya2 tersebut dapat menjadi trigger bagi kemajuan dan kemakmuran masyarakat KP, baik yang masih tinggal di kampung, maupun di rantau. Kepada segenap warga KP, yang kebetulan membaca tulisan ini, di mohon memberikan masukan, atau usulan untuk kelancaran dan kebaikan bersama. Bisa lewat email ini, atau ke: par@uninet.net.id atau agusheris33@yahoo.com atau tripadu@cbn.net.id. Bisa juga sms ke Par 021 70781030.

Matur nuwun,

Salam,

AHS

Posted by: djarotpurbadi | April 26, 2010

Prof. Bambang Rusdiarso: Dibutuhkan Metode Analisis Kimia Baru

Submitted by agung on Wed, 03/17/2010 – 09:06.
in Pengukuhan Guru Besar

Bagi daerah-daerah yang akan dipetakan, dibutuhkan metode analisis kimia baru untuk mengetahui komposisi kimia logam-logam yang memiliki nilai ekonomis. Metode yang dimaksud berupa metode yang mampu memisahkan suatu logam tertentu dalam suatu campuran logam-logam lain. Metode analisis kimia baru tersebut dapat diperoleh dengan cara mengembangkan dan menginovasi teknik-teknik analisis kimia yang sudah ada menjadi metode analisis kimia yang lebih selektif, sensitif, dan teknik operasionalnya tidak terlalu rumit.

Demikian dikatakan Prof. Dr. Bambang Rusdiarso, D.E.A. saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM, Rabu (17/3). Dosen Jurusan Kimia FMIPA UGM ini menyampaikan pidato berjudul Eksplorasi Bahan Bumi Indonesia: Peran Kimia Analisis Anorganik.

“Dalam ilmu kimia, khususnya bidang kimia analisis anorganik, baik analisis mikro maupun makro, masalah serius yang harus diselesaikan adalah bagaimana memperoleh data komposisi kimia bahan bumi yang valid terkait selektivitas dan sensivitas. Bidang mikroanalisis biasanya berorientasi  pada metode analisis kimia baru, sedangkan bidang makroanalisis lebih condong pada proses pemisahan dan pemurnian,”  ujarnya di Balai Senat UGM.

Menurut Bambang Rusdiarso, teknik analisis kimia baru yang digunakan harus mampu mengisolasi suatu logam dari unsur-unsur logam lain yang tercampur. Hal ini disebabkan banyak bahan bumi hasil eksplorasi berupa konsentrat, di dalamnya masih bercampur beberapa logam dengan konsentrasi yang berbeda. Sebagai contoh, komoditi hasil pertambangan di Indonesia, yakni bijih tembaga dan konsentratnya, bijih nikel dan konsentratnya.

Dikatakannya bahwa dalam pelaksanaan pemetaan komposisi kimia logam dalam bahan bumi, kegiatan analisis kimia bertujuan untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh suatu daerah. Daerah yang dipelajari biasanya merupakan daerah yang menarik perhatian dilihat dari sudut pertambangan, sedangkan bahan bumi yang dianalisis dapat berupa batuan, pasir, tanah atau air, bergantung pada tujuannya.

Dari penelitian komposisi kimia pasir besi yang dilakukannya di pantai selatan Kulon Progo, DIY, dengan mengambil sampel pasir besi di 20 titik/lokasi sepanjang 20 km dari ujung timur (Sungai Progo) hingga barat (Sungai Bogowonto) dijumpai kandungan besi  dalam setiap sampel di sepanjang 20 km berbeda, tetapi memiliki rata-rata cukup tinggi. Terdapat korelasi antara warna pasir besi dan konsentrasi besi bahwa semakin hitam, semakin tinggi kandungan besinya. Ini karena pasir hitam lebih banyak mengandung magnetit dibandingkan dengan pasir yang kurang hitam yang lebih banyak mengandung kwarsa. “Dari penelitian ini diketahui kualitas pasir besi di pantai selatan sangat baik karena mengandung kadar TiO2 rendah sehingga wajar dan dapat dipahami bila di daerah tersebut akan dieksplorasi. Walaupun konsentrasi rata-ratanya kecil, di beberapa lokasi disinyalir memiliki kandungan titanium cukup signifikan. Artinya, dari analisis kimia pasir besi pantai selatan dapat dihasilkan titanium yang memiliki ekonomi tinggi, selain logam besi dan vanadium yang sudah diketahui umum selama ini,” jelas suami Isnuari, S.E. dan ayah tiga anak ini. (Humas UGM/ Agung)

Sumber: http://ugm.ac.id/new/index.php?q=id/news/prof-bambang-rusdiarso-dibutuhkan-metode-analisis-kimia-baru

Posted by: djarotpurbadi | April 26, 2010

Pasir Besi Pesisir Selatan Terbaik di Dunia

Rabu, 10/03/2010 13:19 WIB – Oleh : Mediacenter

Pasir besi yang ada disepanjang pesisir selatan Kulonprogo ternyata bukan hanya pasir besi biasa saja yang hanya mengandung titanium, namun juga mengandung vanadium. Di dunia ini pasir besi yang punya kandungan vanadium secara baik hanya di Meksiko dan Indonesia di Jogja. Vanadium sering digunakan untuk memproduksi logam tahan karat dan peralatan yang digunakan dalam kecepatan tinggi. Foil vanadium digunakan sebagai zat pengikat dalam melapisi titanium pada baja, seperti dalam pembuatan tank anti roket atau pembuatan pesawat ulang alik, karena punya sifat baru akan mencair jika terkena gesekan panas 2.000 derajat celcius. Dengan demikian pasir besi di pesisir selatan dapat dikatakan emas hitam, karena harganya bisa lipat seribu dibanding besi biasa.

Hal tersebut dikatakan Gubernur DIY Hamengku Buwono X pada Kunjungan Kerja dalam Perencanaan Program Kegiatan Pembangunan Kabupaten Kulon Progo di Gedung Kaca Pemkab, Selasa (9/3). Dalam kesempatan tersebut bupati H.Toyo Santoso Dipo tidak hadir karena sedang ada acara di Jakarta, dan di wakili Wabup Drs.H.Mulyono. Acara dihadiri Sekda, Assek, Staf Ahli Bupati, seluruh jajaran kepala SKPD dan jajaran Pemprov DIY.

“Kekhasan karakter bijih besi di pesisir selatan ini, jauh waktu sebelumnya sekitar tahun 1976, saya mendampingi suwargi Ngarso Dalem HB IX pernah melakukan penelitian, yang biayanya saat itu mencapai 300.000 poundsterling,”kata Sultan. Sultan juga mengatakan karena berbagai alas an ia tidak rela bila proses penambangan hanya dilakukan seperti di Purworejo atau Cilacap. “saya tidak mau diapusi orang dalam penambangan ini,”ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Sultan juga menegaskan bahwa dalam perjanjian kontrak hanya  pihak investor PT.JMI hanya diberikan ijin untuk melakukan penambangan dan menghasilkan bahan baku besi berupa pig iron atau lonjoran besi. Untuk pemrosesan pembuatan baja dapat dilakukan oleh perusahaan lain.

Adapun tahapannya, hingga saat ini masih menunggu hasil studi AMDAL (analisi mengenai dampak lingkungan). Dan studi AMDAL harus segera selesai, karena jadwal yang diberikan paling lambat bulan Oktober yang akan datang.

Gubernur juga mengharapkan agar Pemkab Kulonprogo segera menyelesaikan pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Bulan Maret ini gubernur akan segera koordinasi dengan 3 kabupaten yang dilewati JJLS yakni Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul untuk menyamakan sikap terhadap pembangunan JJLS. Hal ini mendesak untuk segera diselesaikan karena sebagian besar penduduk Jawa adalah bermukim di wilayah selatan. “Jalur Selatan sangat penting bagi perkembangan DIY, sebab akses ini akan memudahkan para pemakai jalan menembus kemacetan dan diharapkan nantinya juga akan menumbuhkan perekonomian di wilayah yang dilalui jalur tersebut. Dampaknya juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Disamping itu sebagian besar penduduk Jawa bermukim di wilayah selatan. Karena itu dalam waktu dekat ketiga kabupaten segera menyatukan sikap dalam menyelesaikannya. Dari sepanjang 24 km yang ada, Kulonprogo dapat membebaskan berapa kilometer,
nanti segera dipikirkan. Untuk pembiayaan, Gunungkidul memang besar dibanding Bantul dan Kulon Progo karena harus mapras gunung yang memakan biaya tinggi,”katanya.

Sedangkan terhadap pembangunan terminal tipe A, gubernur menginggatkan agar Kulon Progo memikirkan masak-masak. Ia minta agar melihat dari Kota Jogja yang membangun terminal di wilayah selatan dan ternyata sepi. “Terminal harus dekat pemukiman, kalau tidak maka akan merugi, karena masyarakat malas hanya untuk ke terminal yang jaraknya jauh dari tempat tinggalnya. Tapi kalau dekat pemukiman maka pangsa pasar tidak hanya penumpang juga masyarakat sekitar, padahal maintenance begitu besar,”katanya.

Sementara menanggapi pariwisata dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Gubernur DIY minta agar Kulon Progo mengemas paket pariwisata untuk 3 kecamatan sekaligus dan mengangkat potensinya, sehingga akan lebih menguntungkan. Seperti potensi objek wisata Kecamatan Temon-Wates-Kokap, sehingga wisatawan datang tidak hanya melihat namun juga harus mampu merogoh uang para pengunjung, sehingga tidak hanya sekedar dating namun juga menyempatkan membelanjakan uangnya.

Dalam paparannya tersebut Wabup Drs.H.Mulyono mengangkat isu-isu strategis pembangunan di Kulon Progo diantaranya pembangunan bandara internasional, pelabuhan Tanjung Adikarto, penambangan pasir besi dan pendirian pabrik baja,pengalihan jalan arteri primer dari Toyan-Wates-Kenteng ke Toyan-Bendungan-Kenteng dan pembangunan Terminal Type A.pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Disamping itu juga pembangunan jalur jalan lintas selatan, Markas Utama Angkatan Laut, pengembangan budaya dan pariwisata serta pengembangan agribisnis berbasis komoditas unggulan.

Sumber: http://www.kulonprogokab.go.id/v2/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=1069

Posted by: djarotpurbadi | April 14, 2010

Amdal Bisa Batalkan Perda

Jadi atau Tidak, Tambang Pasir Besi Bukan Persoalan

KOMPAS: Rabu, 14 April 2010 | 17:20 WIB

Yogyakarta, Kompas – Meskipun sudah tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah DI Yogyakarta, rencana pertambangan pasir besi di Kulon Progo tetap bisa dibatalkan karena uji analisis mengenai dampak lingkungan. Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menunggu hasil uji amdal yang rampung Oktober.

Dalam revisi Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) DIY, Kementerian Dalam Negeri telah secara eksplisit memasukkan rencana tambang pasir besi di Kulon Progo yang terintegrasi dalam kawasan tambang Jawa-Bali. “Perda RTRW Kulon Progo harus selaras dengan keinginan pemerintah pusat. Raperda ini masih tahap konsultasi ke badan koordinasi penataan ruang daerah DIY,” kata Sekretaris Daerah Kulon Progo Budi Wibowo di Yogyakarta, Selasa (13/4).

Rancangan Perda RTRW Kulon Progo telah mencantumkan rencana pembangunan lokasi wisata, pelabuhan ikan, 200 hektar markas komando Angkatan Laut yang akan dimulai 2013, dan tambang pasir besi.

Terkait masuknya rencana tambang pasir besi di Kulon Progo, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X melihatnya lebih baik daripada tidak ada. “Yang penting dimasukkan dulu sesuai arahan pemerintah pusat. Jadi atau tidak rencana itu, bukan persoalan. Justru akan menjadi persoalan jika tiba-tiba tambang pasir besi jadi dilakukan, tetapi tidak ada dalam rencana tata ruang wilayah,” ujar Sultan.

Untuk keperluan uji analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), sejumlah kajian akan dilakukan, antara lain kajian ekonomi, lingkungan, hingga sosial budaya. Tambang pasir besi justru dinilai akan memperlancar rencana pembangunan bandara udara yang sedang dalam tahap studi kelayakannya hingga 2012. Menurut Budi, pasir besi harus dikeruk setidaknya 40 sentimeter sebelum dibangun sebagai landasan terbang pesawat. Bandar udara baru yang lebih baik diyakini meningkatkan daya saing DIY karena keterbatasan Bandara Adisutjipto saat ini.

Janji kontrak

Sesuai perjanjian dalam kontrak karya, PT Jogja Magasa Iron akan memberi dana pembangunan masyarakat 1,5 persen dan dana pembangunan daerah 1,5 persen dari total nilai penjualan. Total royalti dari tambang pasir besi ke pendapatan daerah Kulon Progo bisa mencapai lebih Rp 1 triliun per tahun. “Investasi harus menyejahterakan. Jika sama sekali tidak menguntungkan, ya tidak kami lanjutkan,” tutur Budi. (WKM)

Posted by: djarotpurbadi | April 14, 2010

Sultan: Proyek Penambangan Pasir Besi Ditentukan Amdal

KOMPAS: Selasa, 28 Juli 2009 | 20:13 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, nasib proyek penambang pasir besi di kawasan pesisir pantai selatan Kulon Progo, DI Yogyakarta, akan ditentukan hasil analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal. Ia meminta dalam proses penyusunan Amdal harus ada dialog dengan warga yang setuju ataupun tidak setuju dengan proyek itu.

“Dalam proses penyusunan Amdal akan ada dialog dengan semua pihak,” ungkap Sultan sesuai bertemu dengan jajaran Direksi PT Jogja Magasa Iron (Investor tambang pasir besi) dan perwakilan warga yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo, S elasa (28/7) di Kantor Gubernur DIY, Kepatihan, Yogyakarta.

Sultan mengungkapkan, proses penyusunan studi Amdal membutuhkan waktu lebih dari setahun. Dalam proses itu harus ada dialog dengan masyarakat yang setuju ataupun menolak proyek tersebut. Ia mengingatkan, penyusunan Amdal harus dilakukan dengan baik sesuai kondisi faktual di lapangan. Dari Amdal ini akan diketahui, proyek penambangan pasir besi di lahan seluas 3.000 hektar itu layak dilanjutkan atau tidak.

“Diberi peluang dulu berjalan (penyusunan Amdal). Amdal ini berjalan karena sudah ada kontrak karya. Dalam penyusunan Amdal masyarakat yang setuju dan tidak setuju akan bertemu,” ujarnya.

Budi Cahyono, Executive Advisor PT JMI, menuturkan telah menerima surat dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Bupati Kulon Progo untuk memulai studi Amdal. Pihaknya telah meminta dua lembaga konsultan internasional dan nasional untuk menghasilkan kualitas studi Amdal berskala internasional dan nasional.

Ia mengungkapkan, pihaknya diberi waktu 18 bulan untuk menyusun Amdal. Hasil studi itu selanjutnya akan dinilai Komisi Amdal untuk diberikan persetujuan atau tidak. Jika disetujui, langkah selanjutnya menyusun detail engineering design (DED). Ia menjelaskan, proyek pasir besi bukan hanya penambangan murni, tetapi juga industri pengolahan besi dan baja yang terintegrasi.

“Dari proyek ini direncanakan dalam waktu satu tahun akan dihasilkan satu juta ton besi dengan kandungan 90 persen atau mendekati murni. Proyek ini selama 30 tahun berdasarkan kontrak karya, dihitung sejak tangal 4 November 2008. Dengan luasan 3.000 hektar,” ucapnya.

Sementara itu, PPLP bersikukuh menolak rencana tambang pasir besi. Ini karena proyek tersebut akan menghilangkan lahan pertanian subur yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan bagi sekitar 15.000 orang. “Prinsip PPLP, yang jelas menolak,” kata Supriyadi, Ketua PPLP. PPLP juga mempertanyakan independensi tim penyusun Amdal.

Posted by: djarotpurbadi | May 17, 2009

Mari Memahami Penambangan Pasir Besi dengan Cerdas

POSTING-15: Sunday, May 17, 2009 8:40 PM

Saudaraku mas Tarko yang saya hormati;

Nuwun sewu mas, untuk praktisnya pertanyaan anda saya tulis dibawah pertanyaan anda:

1. Kl di MJIS – kalimantan saat ini sdh mulai konstruksi, kmrn Wapres
JK yg mulai tiang pancang. kl di jogja apakah sdh mulai pekerjaan
fisik?

JMI akan melaksanakan aktivitas sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ditetapkan didalam Kontrak Karya yang disepakati dengan Pemerintah RI; dimana pada tahun 2009 ini aktivitas JMI akan fokus untuk menyelesaikan Bankable Feasibility Study (BFS) dan Studi AMDAL.

Bila BFS dan AMDAL dapat disetujui oleh Pemerintah RI dan International Market/Pasar Modal..tahun 2010 kami akan memulai proses finalisasi FEED (Front End Engineering Design) ..dan kuartal akhir 2010 kami berharap sudah bisa memulai pekerjaan EPC (Engineering, Procurement & Construction) ..yang kami perkirakan akan memakan waktu 24 bulan.

Jadi pekerjaan fisik secara nyata baru akan ada sekitar medio 2011 dan akan berproduksi disekitar awal 2013. Insya Allah , semoga saya masih diparingi umur oleh Yang Maha Kuasa untuk menyaksikannya.

2. kl di MJIS, 10% adalah porsi kepemilikan utk Pemda Kalsel melalui
setoran inbreng tanah. kl di jogja, apakah pemda KP atau DIY punya
saham? siapa pemegang shm lain?. kl MJIS kan KS – antam dan pemda
kalsel.

Pemda KP tidak memiliki saham di proyek ini akan tetapi Pemda KP akan menerima bagian Royalty dari Pemerintah Pusat dan 1.5% dari sales untuk CSR dan 1.5% dari Sales untuk Regional Development untuk 10 tahun pertama (total 3% dari SALES) dan masing-masing akan naik menjadi 2% setelah 10 tahun (Total 4% dari SALES).

Disamping itu pemerintah akan menerima penghasilan pajak/restribusi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Dan negara/Pemerintah tidak mengeluarkan biaya apapun untuk proyek ini.

Sedangkan PT JMI sendiri sahamnya 30% dimiliki oleh PT JMM (Jogja Magasa Mining) dan 70% dimiliki oleh Indomines Limited (perusahan publik terdaftar di Australian Stock Exchange-ASX ..www.indomines. com.au)

3. lokasi persisnya dimana ya? apakah sepanjang pantai dr galur sd
congot? kl pabriknya sendiri dimana ya? lahan tsb saat ini siapa
pemiliknya ya?

Wilayah Kerja Pertambangan( WKP) berdasarkan kontrak karya dengan pemerintah RI disebelah barat dibatasi oleh K.Serang dan sebelah timur oleh K.Progo dan sejauh sekitar 1.5km ke utara dari bibir pantai selatan dengan luas sekitar 3000HA(ini adalah luasan WKP dan bukan berarti harus ditambang sekaligus 3000HA, luas penambanga per tahunnya tergantung dari kapasitas pabik peleburan besinya)

Pemilik lahan ber-variasi, tapi pada dasarnya JMI tidak punya interest untuk menguasai lahan; Luasan penambangan pertahunnya hanya sekitar 100-200HA (sekitar 3-4% dari luasan WKP). Jadi kalau penambangan dimulai dari Trisik mungkin 20 tahun kemudian daerah Karang Sewu baru ditambang.

Jadi pada saatnya nanti JMI akan berunding untuk kompensasi penyediaan lahan kepada siapapun pemilik/penggarap lahan, seluas 100HA per tahun secara fair, transparan dan terbuka dan accountable (JMI sudah melakukannya untuk pengadaan lahan bagi pilot proyek di Trisik).

Dan bila 10% mineral besi telah kami ekstrak lahan tersebut kami kembalikan kepada yang berhak dengan jaminan bisa difungsikan lagi sebagaimana semula. Tidak ada paksaan jika tidak boleh ditambang juga tidak apa-apa, JMI memiliki pilihan 100HA diantara 3000HA pertahunnya.

Deposit pasir besi dijumpai di sepanjang pantai barat Sumatra dan Selatan Jawa.. dan JMI  diijinkan pemerintah untuk membeli bahan baku darimana saja diseluruh Indonesia..yang penting pabriknya ada di Jogja/KP.

Lokasi Pabriknya sendiri, amat tergantung dari hasil final BSF yang akan dimulai pada JUni/Juli tahun ini.

Nyuwun kathah pertanyaan ipun….matur suwun responnya.

salam

Badhaks

POSTING-14: Sunday, May 17, 2009 8:00 PM

Saudaraku mas Tarko yang saya hormati;

Saya kan mencoba menjawab pertanyaan panjenengan sbb:

1. Core busines dari KS adalah “steel making industry” jadi dalam mata rantai industry besi/baja urutan industry baja adalah setelah industry pertambangan mineral besi dan iron making industry. Jadi hasil produksi “iron making industry” akan menjadi bahan baku dari “steel making industry”

JMI dengan KS sendiri telah mengikatkan diri dalam “Off-take Agreement” dimana bila bila Jogja sudah berproduksi akan mensuply KS dan KS akan membeli hasil produk dari JMI.

Saya sendiri tidak tahu pasti mengapa KS tidak masuk ke Jogja.. tapi secara logika memang pertambangan adalah bukan core busines KS dan diluar kompetensi KS sebagai perusahaan, dan kalau perkiraan saya ini benar..KS telah membuat suatu keputusan yang bijaksana.

2. Investasi untuk Iron/Steel Industry KS adalah kerja sama antara PT Antam (BUMN dibidan pertambangan mineral) dan KS (industri baja) dan beberapa investor lainnya (mungkin).
Mengapa KS memilih di Kalimantan ..adalah diluar kompetensi saya untuk menjawab karena saya tidak memiliki akses terhadap apa yang mendasari kebijakan dari kedua perusahaan diatas.

Di Kalimantan mineral besi ditemukan di alam dalam bentuk “iron ore (batu besi)” dan disana tidak dijumpai “pasir besi”; saya sendiri tidak berani memberi komentar terhadap besaran deposit iron ore di Kalsel; karena sampai saat ini saya belum pernah menjumpai/mempelaja ri jurnal/laporan geologi/eksplorasi yang cukup detail untuk deposit batu besi di Kalsel.

Proses pengolahan/pelebura n mineral besi dengan bahan baku dari batu besi memang sudah dikenal secara baik sejak awal revolusi industri di Eropa. Jadi itu yang mungkin menjadi bahan pertimbangan konsorsium KS/Antam++ memilih Kalsel.

Semoga ulasan ini dapat memuaskan anda dan maturnuwun

Salam;
Bhadaks

POSTING-13: Sunday, May 17, 2009 7:31 PM

Saudaraku mas Amin yang saya hormati;

Maturnuwun dan saya amat menghargai komentar mas Amin; komentar yang cerdas dan bebobot. Saya tidak hanya menyintai pertambangan. . saya juga menyintai pertanian; peternakan; perikanan; perindustrian; lingkungan/kesehata n dan lain-lain bidang yang berguna dan bemanfaat bagi umat manusia.

Saya memimpikan agar semua sektor ini bisa saling sinergi..komplement er ..sehingga bisa membawa manfaat yang optimal bagi kehidupan .. karena pada dasarnya semua sektor ini saling membutuhkan.

Pertanian modern tidak lepas dari dukungan industri perlatan/pertambang an, infra struktur seperti irigasi, pupuk; pembasmi hama; pasar; pendanaan; jalan; sistem transportasi demikian juga peternakan dan perikanan dan perkebunan, dllnya

Industri pertambangan, industri dasar, industri otomotive… manusia yang bekerja disana butuh kecukupan bahan pangan untuk menunjang kehidupannya. .

Baik Pertanian/Peternakan/Pertambangan dan Industri berpengaruh terhadap lingkungan hidup..ekosistem. . cuaca..dan lain-lainnya.

Jadi tidak ada suatu sektor yang mampu berdiri-sendiri. .dan untuk mendapatkan suatu hasil yang optimal dan bermanfaat. Kecenderungan “EGO SEKTOR” adalah hal yang sia-sia…karena tidak ada sektor yang bisa kuat tanpa didukung oleh sektor yang lain-lain.

Manusia adalah mahkluk mulia yang dikaruniai kemampuan untuk berfikir..dan marilah semua persoalan yang muncul kita selesaikan dengan diskusi yang cerdas dan bermartabat. .dan dengan sikap yang “gentlemen”. ..yang membawa manfaat bagi kehidupan bangsa ini.

Maturnuwun & Salam;
Bhadak

POSTING-12: Sunday, May 17, 2009 6:49 PM

Pak Bhadak, nderek bertanya.

Uraian Bapak menunjukan bhw Bpk ahlinya dlm bidang pertambangan ini.
dan uraiannya luar biasa.

Pertanyaan sy:
1. mengapa KS tdk masuk ke jogja ?
2. mengapa KS mlh pilih investasi di Kalimantan?

Menurut uraian bpk, sy simpulkn bhw investasi di kalimantan yg saat
ini dilakukan oleh KS lbh berisiko dan harga iron lbh murah
dibandingkan jogja. kenapa KS yg notabene tuan negeri sendiri tdk
memilih di jogja yg lbh menarik spt yg diuraikn bpk.

Mungkin bpk ada informasi shg bisa menjawab pertanyaan tsb.
terima kasih …

Tarko Sunaryo

POSTING-11: Sunday, May 17, 2009 5:39 AM

Salam,

Dunia pertambangan memang memiliki stereotip seperti itu. Para penambang batubara di Kalimantan misalnya banyak yang turut andil dalam membangun stereotip tersebut. Diperlukan sebuah perusahaan yang benar-benar berkomitmen untuk menjaga aktivitas penambangannya memenuhi standar tinggi pada Quality, Safety dan Environment. Di perusahaan yang misi utamanya hanya mencari selisih pendapatan sebanyak-banyaknya dari biaya produksi dan harga jual, sangat potensial mengabaikan kualitas lingkungan.

Kontraktor
Dalam dunia tambang, wajar mempekerjakan kontraktor dalam tahap-tahap operasinya. Meskipun undang-undang ingin mengurangi pengalihan pekerjaan seperti ini, yang saat ini sedang dalam tarik ulur. Dalam pandangan saya, keberadaan kontraktor yang profesional sangat menentukan mutu operasi dan akhirnya juga hasil. Saya menyarankan, seandainya dipakai perusahaan outsourching dalam operasinya, harus dipilih yang benar-benar profesional meskipun biayanya biasanya lebih tinggi.

Transportasi.
Sebaiknya dari awal harus di pikirkan pembangunan jalur alternatif misalnya kereta api yang mandiri ataupun terintegrasi dengan jalur yang ada menuju pelabuhan atau tempat pengolahan. Dengan adanya jalur ini, beban keamanan, ketahanan fisik dan lingkungan yang berhubungan dengan lalulintas publik tidak semakin bertambah.

Community Development
Selain membayar pajak, manfaat langsung dari keberadaan tambang di tengah masyarakat juga harus di pikirkan. Seperti yang pernah saya sampaikan, komitmen perusahaan ditandai dengan menyisihkan sekian sen dolar dari produksi untuk keperluan CD yang terprogram dengan baik. Artinya entah perusahaan untung atau rugi, masyarakat tetap memiliki hak biaya pengembangan masyarakat (CD).

(Mazab lain mengambil biaya CD dari keuntungan)

Visi Misi Pemilik Perusahaan
Dari sependek pengamatan saya, para pemilik perusahaan yang memiliki kecintaan pada dunia tambang, terdidik dengan benar di bidang ini, besar dari dunia pertambangan, lebih memiliki tanggungjawab terhadap operasi pertambangan daripada yang hanya berorientasi profit apalagi portofolio untuk bermain di bursa sekunder.

Sebuah tambang batubara kecil (dibanding konsesi KPC, Berau dsb di Kalimantan) di Lamphang (Thailand) bisa dikelola sedemikian bagus sehingga masyarakat terberdayakan, lingkungan relatif terjaga dan setelah tutup pun masih ada museum yang manis, jembatan yang indah di lokasinya.

Kontribusi Pak Badhak
Saya membaca, Pak Badhak adalah orang yang memiliki kecintaan dan idealisme akan dunia tambang. Saya akan sangat senang apabila orang seperti beliau ini memiliki posisi yang penting di perusahaan yang nantinya akan mengelola pasir besi di KP. Idealnya, maaf, pemilik perusahaan ini harus se ideal Pak Badhak ini. Kalaupun tidak, beliau bisa merekomendasikan orang-orang yang seide untuk duduk di sana.

Karena sekali lagi, tambang tetap kita perlukan tetapi orang tambang idealis, kuat, berani dan tegas yang mampu mengendalikan mesin tambang untuk berjalan pada koridor yang benar lebih kita perlukan. Karena memenuhi standar tambang yang baik memerlukan biaya yang tidak kecil. Pemilik modal harus rela mengalokasikan biaya-biaya ini.

Terimakasih,
ATR

POSTING-10: Saturday, May 16, 2009 9:39 PM

Mbak Anytri Suwiti yang saya hormati;

Jujur saja saya ingin bertanya kepada mbak Suwiti;

Apakah dalam hidup mbak Sawiti pernah meng-konsumsi atau memanfaatkan produk pertambangan? ?

Saya yakin jawabannya PASTI PERNAH dan MASIH sampai saat ini!!

Pada saat mbak Sawiti mengirim email untuk posting di MWK pasti mengunakan PC atau LapTop atau Notebook… dan apakah mbak Sawiti Sadar kalau PC/Laptop/Note Book anda itu sekitar 60% komponennya dibuat dari bahan/produk tambang???

PC/Laptop anda bisa hidup dengan Listrik, dan listrik dihidupkan karena ada Pembangkit Listrik yang terbuat dari besi dan Baja (he..he..kalau ada pembangkit listrik yang dibuat dari kayu/cabe/getuk tolong saya dikasih tau), dan menggunakan energy yang berasal dari batu bara; minyak etc..yang semua ini adalah produk pertambangan? ??

Saat ini anda menggunakan busana yang indah, yang ditenun dengan mesin-mesin pintal yang dibuat dari besi dan baja, dijahit dengan mesin jahit/jarum dari besi/baja, dan waktu anda membeli kain/busana ini saya yakin tidak jalan kaki..pasti pakai mobil/motor. .atau sepeda ontel yang nota bene juga dibuat besi dan baja…rasanya kok nggak ada mobil/besi/baja dibuat dari cabe atau melon???

Pasti pada saat mbak menulis posting anda sedang bernaung dirumah yang nyaman…yang terbuat dari batu,semen bertulang besi, ada pipa air ada kabel listrik yang berasal dari produk pertambangan. ..???

Kalau mbak Suwiti masih menggunakan menggunakan, mengkonsumsi dan memanfaatkan produk-produk pertambangan diatas dan anda merasa nyaman dengan produk tersebut…nuwun sewu mbak…anda secara nyata memiliki kontribusi dan partisipasi terhadap kerusakan jalan di Kalsel akibat Truk yang mengangkut bahan-bahan tambang,..terhadap kerusakan lingkungan, kemiskinan, kesengsaraan yang katanya akibat pertambangan. ..

Kalau anda masih menggunakan/ memanfaatkan/ mengkonsumsi hasil produk pertambangan marilah kita sama-sama memberikan solusi..bagaimana menambang dengan tidak merusak jalan..bagaimana menambang berdampingan komplementer dengan aktivitas-aktivitas lain..bagaimana menambang dengan menjaga kelestarian lingkungan.. .etc..etc Jadi tidak hanya mengkritisi atau pakai ilmu pokok-ee tanpa memberikan solusi…apakah itu yang dinamakan jujur ???

Alangkan MUNAFIKnya dalam hidup ini..kalau kita mengkritik/ mencerca/ menghujat tapi dalam kehidupan sehari-hari dengan nyaman dan dengan wajah tanpa dosa kita memakai/memanfaatka n hasil proses dari produk yang kita kritisi atau kita cerca.

Saya yakin orang tua kita..agama kita tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi manusia HIPOKRIT

Salam;
Bhadak

POSTING-9: Saturday, May 16, 2009 9:40 AM

Setuju dan tidak setuju sudah hal yang biasa. Yang penting ada alasan tepat dan nyata. Yang jelas tidak ada keinginan untuk merugikan masyarakat. Bagi yang tidak setuju mari kita pikirkan bagaimana memberikan sosuli alternatif yang riil bukan sekedar wacana. Nek mung wacana ya susah. Negara kita ini sudah terkenal dengan “Negeri seribu wacana, sejuta slogan tapi miskin realisasi”

Hayo siapa yang punya solusi riil ?

Mas niek

POSTING-8: Saturday, May 9, 2009 8:24 AM

jujur saja saya agak kurang setuju dengan adanya tambang pasir besi,di kp. bukan apa, apakah social benefitnya lebih tinggi dari social costnya? kalo itung-itungan di ats kertas si bisa aja .but kalo jalan rusak karena dilalui truk gedhe2, apakah dep PU mau mbetulin jalan ? jangan 2 nanti malah saling lempar, ujung-ujungya rakyat yg jadi korban. trus , apa manfaat langsung yang diperoleh rakyat setempat, ? dipekerjakan jadi security ? sopir?

di Kalimantan Selatan saja rakyat sampai protes supaya dibikinkan jalan khusus truk batubara. OK lahan disana masih luas, but di sini , apa nanti mau lewat jalan dendels sono , (jalur selatan) apalgi ini proyek multiyears , anak cucu kita yang akan mengelola, saya yang tiap 4 bulan pulang kampung, menikmati jalan tol di wates sana..mudah- mudahan gak jadi males gara2 adanya tambang pasir besi. Keindahan dan dan keaslian pantai akan hilang hanya karena faktor ekonomi.

itu saja unek-unek dari saya.

anytri sutiwi

POSTING-7: Friday, May 8, 2009 12:53 PM

Pak Agus Yth;

Maturnuwun untuk response anda,…..negara kita saat ini masih impor bahan baku baja berupa Iron Pellet, Iron Sponge, Pig Iron dan besi scrap sekitar 4 juta ton per tahun. Dimana shipment cost dari negara asal sekitar $30 sampai $80/ton.

Dikatakan oleh pak Agus bahwa perbedaan harga btbara antara Kalsel dan Jogja sekitar $15/ton, berarti dari nilai shipment saja masih ada margin yang menarik dan margin ini ada di negara kita …berati ada pajak yang dibayarkan ke negara.

Kalau Iron making Industri di Kalsel produksinya sekitar 600,000Ton/th dan Jogja 1 juta ton/thn, dan bisa diwujudkan ; dari cost shipment saja bisa dihemat pengeluaran devisa minimum sebesar 1,6juta x US$ 25 = $ 40 juta per tahun; atau sekitar Rp 400 milyar pertahun atau sekitar 10x lebih PAD Kulon Progo.

Salam;

Bhadaks

POSTING-6: Friday, May 8, 2009 9:11 AM

Matur nuwun Pak Bhadak atas penjelasannya. Saya memang kemarin2 agak khawatir kalau end product kita kurang competitive mengingat komponen biaya yg terbesar di melting process adalah bahan bakar, sedangkan perbedaan harga batubara di Banjarmasin dan Yogya per metric ton nya lebih mahal sekitar USD 15 an.

Ditambah lagi biaya sosial di tempat kita yang relative tinggi, karena (mungkin) ketidak mengertian temen2 petani di pesisir, dengan mengadakan demo2.
Btw, mudah2an KP mendapatkan yg terbaik dari proyek tsb.
Salam,

AHS

POSTING-5: Friday, May 8, 2009 7:19 AM

salam MWK, nimbrung….

Lepas dari fakta kontrak karya beserta langkah-langkah pemegang otorita yang dilindungi hukum dan itu harus jalan terus,…, ini juga fakta sekilas cerita dari lapangan yang saya dengar, penduduk/ orang-orang yang tinggal disekitar wilayah penambangan dan atau sekitar lokasi pilot project pasir besi itu memang nganyelke, ngeyel dan waton suloyo. Beberapa waktu yang lalu pemkab dan pihak terkait bermaksud memperjelas status tanah yang konon sebagian adalah PA ground. Tapi apa yang terjadi, ketika program tersebut disosialisasikan dan pendataan dimulai, mereka ramai-ramai menolak. Padahal pendataan tsb tidak lain bermaksud memperjelas dan memberikan status hukum atas tanah pesisir tsb. Selanjutnya penduduk yang tinggal disana kemudian akan diberi surat kekancingan magersari dari PA dan boleh tetap tinggal disana, dan penduduk yang bisa menunjukkan surat bukti kepemilikan yang syah ya silahkan…tetapi apapun gerak pemerintah rupanya selalu dianggap salah, dicurigai dan dilawan….katanya surat kekancingan akan jadi alat baru untuk menggusur mereka…… hallllaaaahhh. .siapa sih provokatornya?

Pasir besi maju terusss…!! !

salam damai
KJG.

POSTING-4: Thursday, May 7, 2009 6:02 PM

Pak Agus YTh;

End Product dari Iron Project di Kalimantan dengan Jogja agak berbeda.. di Kalimantan akan berupa Iron Pellet (60%-70%Fe) sedangkan di Kulon Progo akan berupa Pig Iron (>90%Fe); dari segi harga juga akan berbeda… saat ini harga FOB Iron Pellet disekitar $200-250/Ton; sedangkan Pig Iron Sekitar $350-400/ton

Main Feedstock Bahan Baku diluar batu bara juga berbeda; di Kalimantan berupa batu besi (iron ore) dimana penyebaran mineral resource nya di alam tidak homogen dan merata; sehingga proses penambangannya akan lebih berisiko dan mahal. Sedangkan di Jogja bahan bakunya berupa pasir besi yang penyebaran cadangan di alam merata dan homogen sehingga resiko keberhasilan penambangan rendah.

Process pembuatan Pig Iron dengan bahan baku 100% pasir besi secara komersial baru dilakukan pada tahun 1970 oleh New Zealand Steel; dan technologinya pada saat itu diketemukan oleh Lurgie Metal; sekarang masih menjadi satu-satunya didunia iron making plant yang menggunakan bahan baku 100% dari pasir besi. Saat ini Lurgie Metal sudah di akuisisi oleh Outokompu yang juga merupakan pemilik dari Outotec. Sehingga paten technologi processing pasir besi menjadi base metal; saat ini dimiliki oleh Outokompu.

Pada project Jogja Outokompu juga menjadi pemegang saham dari Investor Company (sekitar 5%) hal ini akan menjamin kelayakan teknologi Iron Making Plant yang memakai 100% pasir besi; dan Jogja Liquid Iron Plant akan menjadi pabrik kedua didunia setelah New Zealand yang memakai bahan baku utama 100% pasir besi.

Dari segi keekonomian yang dibuat pada scoping study dengan kapitalisasi sekitar $600juta dan biaya Operasi sekitar $200/Ton ( termasuk haga batubara 5000cal, $40-60 CNF Jogja ); dengan harga jual $300/ton FOB Jogja; dan inital production 600,000 ton – 1juta Ton pertahun masih menghasilkan parameter keekonomian NPV dan IRR yang amat menarik dan layak.

Kalau memang Iron Making Project di Kalimantan dan Jogja dapat terwujud ini merupakan langkah awal untuk kemandirian nasional dalam industri dasar logam; karena saat ini kita masih tergantung 100% dari import untuk penyediaan bahan baku logam baja/besi;saat kita menjual export raw feedstock batu besi/pasir besi dengan harga antara Rp 400-600/kg FOB dan mengimport kembali dalam bentuk iron pellet/pig iron dengan harga sekitar Rp 2500 -4000/kg FOB (belum termasuk shipment cost)… alangkah ironisnya

Dengan membangun Integrated Iron Making Industry adalah langkah awal kemandirian dibidang Industri Dasar; dan ini adalah langkah awal menuju Indonesia Super Power…

Salam;
Bhadaks

POSTING-3: Thursday, May 7, 2009 5:00 PM

P Bhadak yth,

Saya dengar, bersamaan dengan proyek pasir besi tersebut, saat ini di Kalsel mau dibangun juga pabrik billet dengan nama PT Meratus Jaya Iron. Main contractornya KEC dan consultant nya Outotec. Pertimbangan dibangun di Kalsel, untuk mendekati sumber energy yg dipakai (batubara), supaya HPP nya turun.

Pertanyaannya, apakah biaya produksi billet yg berbahan baku pasir besi kita nanti cukup kompetitif dibanding pabrik lain ( misalnya Meratus), kalau pabriknya di Sentolo ?. Karena biaya transportasi utk batubara dan pasir besinya pasti lebih mahal.

Mohon diberi gambaran bila berkenan,

Salam,

AHS

POSTING-2: Thursday, May 7, 2009 2:33 PM

Mas Jarot dan keluarga MWK Yang saya Hormati,
Assalamu alaikum WW, Salam Sejahtera;

Pertama, saya ingin menyampaikan permohonan maaf saya karena sudah beberapa waktu tidak mengucapkan salam kepada rekan-rekan MWK di Milis ini.
Sejak ditanda tanganinya KOntrak Karya antara Pemerintah RI dan Investor pada 4 November 2008; sebenarnya tugas saya secara full-active di proyek ini berakhir..karena memang saya hanya bersedia membantu secara full active day to day pada proyek ini sampai proyek ini mendapatkan legalitas secara formal dari Pemerintah RI..dan setelah itu saya hanya bersedia sebagai advisor saja..; karena masih ada aktivitas lain yang harus saya kerjakan dan impian-impian yang saya ingin realisasikan.

Dengan telah ditanda tanganinya Kontrak Karya untuk pengembangan Liquid Iron Project Jogja (LIPJ); maka telah ditetapkan legalitas dan aturan main dari proyek ini yang menjadi acuan bagi pelaksanaan pengembangan proyek. Dan pada tahapan awal sebagaimana dipersyaratkan dalam Kontrak Karya.. investor dalam hal ini PT Jogja Magasa Iron (JMI) harus menyerahkan laporan hasil Preliminary Survey dan Eksplorasi kepada Pemerintah cq Menteri ESDM; dimana laporan ini berisi hasil atas evaluasi dan analisa cadangan mineral terukur pada daerah Wilayah Kerja Pertambangan (WKP).

Dimana Studi Perhitungan Cadangan Mineral terukur ini berdasarkan hasil eksplorasi yang harus dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis eksplorasi mineral dengan standard yang diakui baik secara nasional maupun internasional.
(Untuk saat ini kecuali di Amerika; digunakan standard yang berdasar JORC – Joint Ore Reserve Committe;..dimana JORC standard ini terbentuk setelah adanya kasus Busang..yang merupakan kasus manipulasi perhitungan cadangan mineral..yang cukup menggoncangkan financial market di sektor pertambangan) .

Dan juga dari konklusi cadangan mineral terukur dapat dipastikan nilai asset mineral yang dimiliki oleh Negara pada WKP tersebut.

Alhamdulilah Laporan Hasil Eksplorasi yang disampaikan kepada Pemerintah RI/Menteri ESDM pada Januari 2009, setelah melalui pembahasan dan diskusi teknis dan ilmiah dengan para pakar tambang, Laporan Eksplorasi Investor diterima dan disetujui oleh Pemerintah RI/Menteri ESDM pada awal bulan Mei 2009.

Setelah kelayakan hasil eksplorasi dapat diterima oleh Pemerintah, selanjutnya investor harus melakukan Bakable Feasibility Study(BSF) dari aspek Administrasi /Teknis/Ekonomis/ Finansial/ Sosialdan AMDAL; dimana berdasarkan Kontrak Karya investor diberi waktu selama 1 tahun sejak disetujuinya Laporan Eksplorasi oleh Pemerintah RI.

Dimana hasil BSF dan studi AMDAL ini harus disetujui oleh Pemerintah RI dan juga oleh Financial Market untuk mendapatkan pendanaan/kapitalis asi pengembangan proyek lebih lanjut.Studi AMDAL akan menghasilkan pedoman Manajemen dan Monitoring Lingkungan yangbila disetujui oleh para stakeholder akan dijadikan acuan bagi pengelolaan lingkungan pengembangan proyek.

Setelah persetujuan BSF dan AMDAL diperoleh dari Pemerintah dan stakeholder yang lain, investor baru bisa melaksanakan aktivitas proyek lebih lanjut yang berupa Finalisasi FEED (Front End Engineering Design) dan EPC (Engineering, Procurement & Construction) .

Dan tahun 2009 ini aktivitas pengembangan proyek akan fokus pada penyelesaian BSF dan Studi AMDAL yang akan dimulai pada awal Juni 2009.

Demikianlah Mas Jarot dan rekan MWK yang saya hormati, status dari pengembangan dari LIJP..pada saat ini; Mewujudkan impian ini tidak mudah, masih panjang jalan yang harus ditempuh.. Situasi ekonomi global/domestik, politik, sosial pada tahun ini kelihatannya kurang bersahabat bagi iklim investasi di Indonesia saat ini..tapi kita harus tetap optimis ..kalau kita mau ..insya Allah kita bisa mengatasi semua kesulitan dan tantangan ini.

Tapi direct investasi harus tetap kita dorong dan upayakan karena tanpa adanya direct investment disektor riil…pertumbuhan dan kesempatan kerja akan “stuck” dan “unemployment” akan menjadi ancaman bagi kondisi sosial ditanah air kita.

Salam Hormat;
Boedi T alias Bhadak T

POSTING -1: Rabu, 6 Mei, 2009 20:37:42

Dear Pak Badhaks,

Sudah lama kita tidak jumpa dan tukar wawasan. Bagaimana kabar kemajuan atau kemunduran kegiatan pasir besi yang konon secara konsep akan memajukan KP secara substansial dan berkelanjutan ? Kita yang hadir di pertemuan Jurugan pastilah sudah paham betul hal itu, tetapi saya kira ada satu hal yang masih perlu diklarifikasi lagi, yaitu soal karakter kontrak yang dikaitkan dengan konsep penambangan ramah lingkungan sekaligus patriotisme melawan ketergantungan dari negara lain (kemandirian RI dalam bidang insudtri logam).

Saya melihat ada satu hal yang harus panjenengan jelaskan: apakah bisa dituliskan dengan bahasa yang musah perbandingan antara kontrak Freeport dengan kontrak di Paris Besi di KP. Saya kira banyak warga KP di perantauan yang memerlukan informasi itu, khususnya apakah aktivitas penjenengan sami mawon dengan Freeport atau ada kemajuan yang signifikan ? Mana saja yang signifikan secara kualitatif dan kuantitatif serta dalam jangka pendek dan panjang. Mungkin bisa ditulis dengan beberapa tulisan berseri dan saya kira blog resmi MWK akan memuatnya, sebab kami berperan menjadi jembatan informasinya !

Apalagi Bakor PKP yang menjadi koordinator warga perantauan pastilah memerlukan informasi segamblang-gamblang nya sedetil-detilnya tentang perbandingan itu. Saya kuatir, aktivitas panjenengan dibaca dengan kacamata buram, artinya ketika orang membaca usulan aktivitas panjenengan di dalamnya sudah ada apriori karena kasus freeport memang gombal banget. Jadi ya tidak jernih. Contohnya, Freeport menggempur gunung tembaga/emas dan bahan-bahan alami itu langsung masuk kapal terus dibawa keluar Papua sehingga no body knows yang ada di dalamnya. Lha di KP, pasir besinya tidak dibawa kemana-mana, hanya di pabrik peleburan di KP, sewaktu-waktu bisa dilihat warga masyarakat dengan nyaman. Kalau nemu keris ya bisa diambil dst dst dst…..Jadi menurut penjelasan panjenengan prosesnya sangat transparan begitu mau diragukan apa lagi !!!

Mohon dijelaskan secara khusus point-point penting kemajuan kontrak / aktivitas anda dibandingkan dengan Freeport, siapa tahu sinar terang untuk kemajuan KP semakin terang dan sungguh membawa kemajuan sejati !

Salam,

Djarot Purbadi

Posted by: djarotpurbadi | May 17, 2009

Ciri Manusia Indonesia : Menurut Mochtar Lubis

Oleh Chappy Hakim – 10 Mei 2009 –

Sekedar mengingatkan kembali, saya kutipkan ulang tentang ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis :

Ciri pertama manusia Indonesia adalah hipokrit atau munafik. Di depan umum kita mengecam kehidupan seks terbuka atau setengah terbuka, tapi kita membuka tempat mandi uap, tempat pijat, dan melindungi prostitusi. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Banyak yang pura-pura alim, tapi begitu sampai di luar negeri lantas mencari nightclub dan pesan perempuan kepada bellboy hotel. Dia mengutuk dan memaki-maki korupsi, tapi dia sendiri seorang koruptor. Kemunafikan manusia Indonesia juga terlihat dari sikap asal bapak senang (ABS) dengan tujuan untuk survive.

Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, ”Saya hanya melaksanakan perintah atasan.”

Ciri ketiga manusia Indonesia berjiwa feodal. Sikap feodal dapat dilihat dalam tata cara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan organisasi kepegawaian. Istri komandan atau istri menteri otomatis menjadi ketua, tak peduli kurang cakap atau tak punya bakat memimpin. Akibat jiwa feodal ini, yang berkuasa tidak suka mendengar kritik dan bawahan amat segan melontarkan kritik terhadap atasan.

Ciri keempat manusia Indonesia, masih percaya takhayul. Manusia Indonesia percaya gunung, pantai, pohon, patung, dan keris mempunyai kekuatan gaib. Percaya manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua untuk menyenangkan ”mereka” agar jangan memusuhi manusia, termasuk memberi sesajen.
”Kemudian kita membuat mantra dan semboyan baru, Tritura, Ampera, Orde Baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang adil dan merata, insan pembangunan,” ujar Mochtar Lubis. Dia melanjutkan kritiknya, ”Sekarang kita membikin takhayul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi satu takhayul baru, juga pembangunan ekonomi. Model dari negeri industri maju menjadi takhayul dan lambang baru, dengan segala mantranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP.”

Ciri kelima, manusia Indonesia artistik. Karena dekat dengan alam, manusia Indonesia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaan sensualnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang dituangkan dalam ciptaan serta kerajinan artistik yang indah.

Ciri keenam, manusia Indonesia, tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.

Kita, menurut Mochtar Lubis, juga bisa kejam, mengamuk, membunuh, berkhianat, membakar, dan dengki. Sifat buruk lain adalah kita cenderung bermalas-malas akibat alam kita yang murah hati.

Selain menelanjangi yang buruk, pendiri harian Indonesia Raya itu tak lupa mengemukakan sifat yang baik. Misalnya, masih kuatnya ikatan saling tolong. Manusia Indonesia pada dasarnya berhati lembut, suka damai, punya rasa humor, serta dapat tertawa dalam penderitaan. Manusia Indonesia juga cepat belajar dan punya otak encer serta mudah dilatih keterampilan. Selain itu, punya ikatan kekeluargaan yang mesra serta penyabar.

Dan terakhir ada juga yang mengatakan bangsa kita senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. (Posting ini dikutip dari Kompasiana.com. Semoga kita jauh dari Ciri Manusia Indonesia sebagaimana yang ditulis oleh Almarhum Mochtar Lubis)

Catatan: bahan ini reposting yang diambil dari posting Pak Badhak tanggal Saturday, May 16, 2009 9:57 PM

Posted by: djarotpurbadi | May 11, 2009

Mari Mencari Brand Image Kulon Progo

Poro sederek ingkang minulyo..,

Tentang brand image untuk KP, ketika saya masih ngangsu kawruh di Yogya dulu, hampir pasti westprog itu identik dengan growol. Kalau habis pulang kampung, ditanyain temen2 kost oleh2 growolnya. Trus terang, saat itu saya malu. Bagi saya, temen yang tanya itu hanya ngledek, bukan kepingin growol,karena mereka rata2 “ngglendengi” growol yang bau kecut, seperti makanan busuk . Sehingga saya merasa growol hanya memberikan iamge kepada penduduk KP terbelakang dan miskin ( maaf, beribu ribu maaf ).

Tahun 1997 saya ajak principal saya dari Belgia muter2 Jogja, sampai ke sendangsono. Dan saya kasih dia growol, geblek dan tempe benguk yang paling enak ( menurut saya ), ternyata dia tidak doyan. Dari pengalaman tersebut, saya merasa segala upaya yang dilakukan untuk menjadikan ke tiga produk tersebut menjadi brand KP, tidak tepat. Sulit sekali dibawa ke arah global. Makanya ketika ada pawai pembangunan Sekda KP membuat GIA (Geblek Indonesia Airways) mau go international , saya mbatin, kalau yang punya Ide tersebut mikirnya nggak tenanan.

Brand image, menurut hemat saya, harus bisa diterima secara global, mendunia. Bukan hanya diterima oleh orang2 yang lahir dan besar di KP saja. Oleh karena itu, ketika ada pertemuan di Wisma Sermo th 2007, saya mengusulkan agar KP punya brand image yang bisa diterima global. Saat itu saya lontarkan usulan KP kabupaten Herbal, atau Wates Kota Herbal.

Pertimbangan saya, masyarakat dunia sudah mulai sadar untuk back to nature, Kulon Progo punya tanaman herbal yang banyak macamnya, dan saya denger kualitasnya sangat bagus, terutama temulawak dari bukit menoreh.

Nama Kota Herbal belum ada satupun daerah yang meng claim, bisa go international, dan rasanya lebih elit ( dibanding geblek ), disamping itu nilai ekonomisnya lebih tinggi. Saya yakin, kalau Wates atau KP punya brand image yang kuat untuk herbal, akan memberikan dampak yang besar pada pencapaian kesejahteraan masyarakat yang tinggal di KP.

Saya memimpikan kalau ada kata herbal disebut, Kulon Progo yang muncul dalam ingatan penduduk bumi. Sebagaimana kalau ada kata ukiran, Kota Jepara yang muncul, atauada orang kepingin berlibur di pantai, maka Bali akan muncul di ingatan pertama kali.

Makaten poro sederek, manawi sae monggo dipun sengkuyung, manawi kirang, dipun sempurnakaken, manwi awon, dipun tilar.

Salam, AHS

TANGGAPAN (1)

Wednesday, May 13, 2009 10:13 AM

Yth Mas Heri,

Saya terenyuh membaca nama growol, geblek dan tempe benguk, karena saya tidak bisa silak dengan makanan pokok itu saya dibesarkan dan sampai sekarang sehat walafiat serta alhamdulillah atas perkenan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan atas doa orang tua saya sudah mengunjungi 52 negara serta kakang dan adik adik juga tidak jauh berbeda. Saat saya kecil di desa Kulur kec. Temon. panen padi hanya setahun sekali, krn sawah orang tua tidak luas dan anaknya banyak, maka beras harus di irit-irit agar cukup setahun. Saya jalan kaki nurut rel kereta api untuk sekolah di Wates, kota yang penuh sejarah dan penuh kenangan getir bagi saya tetapi sangat saya rindui.  Apapun  kata orang tentang growol, saya akan senantiasa memperkenalkan makanan itu kepada anak dan cucu saya. Saya tidak akan melupakan sejarah agar tidak dibilang orang  “kacang lupa kulitnya” Maafkan saya Mas Heri menawi kelajuk atur kulo. terima kasih dan salam hormat saya untuk keluarga serta teman-teman sekulonprogo dimanapun.

Salam,
Syiar Uddin

TANGGAPAN (2)

Wednesday, May 13, 2009 10:32 AM

Wah… saya tak urun rembug sedikit ya. Terutama soal makanan tradisional dan perubahan nama kota.

1. Harus diakui, growol, gebleg dan tempe benguk adalah ciri khas Kulon Progo. Ciri khas adalah sesuatu yang ditempat lain tidak ada, itu difinisinya.
2. Harus diakui juga bahwa ketiganya telah ikut berjuang mengenyangkan perut wong Kulon Progo sampai pada era Listrik Masuk Desa sekitar tahun 80 an. Setelah itu ketiganya menjadi masa lalu, terutama bagi anak-anak yang lahir setelah masa itu.
3. Ketiga makanan tersebut identik dengan kemiskinan ? Dulu ya. Tetapi sekarang ketiganya menjadi makanan obat rindu bagi yang pernah mencobanya.
4. Realistis saja, kalau ketiganya mau dijadikan makanan khas yang dijual untuk orang lain apa ada yang mau ? Jawabnya tidak. Tetapi kalau mengolah singkong menjadi produk lain atau tempe benguk diolah menjadi produk lain itu bisa saja.
5. Merubah nama bukan hal yang mudah dan murah. Saya sih setuju saja, tetapi apakah tidak lebih baik kondisi masyarakat dulu yang dirubah, setelah besar dan ramai baru dinamakan ADI KARTO.

Sekian
Mas Niek

Posted by: djarotpurbadi | April 29, 2009

Alam KP dari Titik Christ Bennet

Alam KP

Foto diambil oleh: Djarot Purbadi, 28 April 2009

Alam Kulon Progo yang puitis dipandang dan dinikmati dari titik Christ Bennet. Disini orang bisa awet muda sebab lupa sejenak kalau punya utang…..alam begitu memesona….oh Kalibiru ! Kapan-kapan jumpa darat MWK perlu dilaksanakan di Kalibiru, tentu sangat pas sambil ngaruhke dan memotivasi warga yang semakin mengembangkan cinta lingkungan !

Older Posts »

Categories