Posted by: djarotpurbadi | January 9, 2009

Culture Shock Pertama

Menurut paparan ahli pertambangan yang terlibat dalam diskusi di Jurugan, dikatakan bahwa SDM yang akan bekerja di KP diprioritaskan berasal dari warga KP. Waah hebat dan menarik. Saya membayangkan, hampir 90% warga KP dari berbagai disiplin akan bekerja di perusahaan pengelolaan pasir besi KP. Saya juga membayangkan mereka akan menghuni perumahan dan berbagai fasilitas pendukungnya yang berstandar internasional.Gaya hidup mereka akan berubah, berstandar intenasional. Ujung bayangan dan angan-angan saya itu menegaskan bahwa wong KP menjadi pelaku utama proyek pengelolaan pasir besi tersebut. Pasir besi adalah bekah bagi KP !

Tetapi bayangan manis nan indah tersebut segera pupus, ketika ingat ceritera buruknya pariwisata di KP. Konon pelaku pariwisata di obyek-obyek pariwisata di KP bukan orang KP melainkan dari kabupaten lain. Kondisi ini terjadi karena orang lain lebih smart dan nekad daripada orang KP sendiri, bahkan pada skala lahan parkir. Ada gejala yang memprihatinkan bahwa wilayah KP telah dimanfaatkan para wiraswasta dari kabupaten lain, sementara orang KP sendiri tidak mampu mengelolanya. Orang KP menjadi penonton di rumah sendiri, wuh memelas tenanan. Bayangan saya itu tertumbuk pada realitas tentang kesiapan SDM KP sendiri dalam mengisi ribuan lowongan pekerjaan yang ada di dalam proyek pengelolaan pasir besi tersebut.

Uraian pada alinea diatas ini tidak dilandasi sikap eksklusivisme atau diskriminasi terhadap warga non-KP, sebab bagaimanapun mereka adalah sesama saudara dari Sabang sampai Merauke. Uraian ini semata-mata ingin mengugah kesadaran warga KP agar segera bangun dari tidur yang nyenyak tanpa mimpi indah. Artinya ingin menyadarkan bahwa warga non-KP tampaknya lebih gigih dan berhasil, mengapa warga KP sendiri tidak demikian ? Jadi maksudnya adalah positif, semacam otokritik !

Culture shock pertama sangat mengkuatirkan sebab rekrutmen pegawai di proyek pengelolaan pasir besi menggunakan perusahaan internasional dan diukur dengan standar internasional. Hal yang paling tampak, pegawai di perusahaan itu harus mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris secara lancar, minimal pada level kepangkatan menengah ke atas sebab perusahaan akan berineraksi dengan berbagai pihak di seluruh dunia. Coba bayangkan, jika ada banyak anak KP yang sarjana kemudian ditolak menjadi pegawai gara-gara toeflnya sangat rendah ! Apa nggak terjadi frustrasi kolektif yang akan memicu kerusuhan massal ? Pasir besi menjadi bencana bagi KP ????

Apakah dengan ini kita perlu melakukan demo supaya proses rekrutmen tidak dengan cara yang tiba-tiba berstandar internasional ? Rasanya hal itu tidak mungkin, sebab perusahaan pengelolaan pasir besi tersebut berada dalam pengawasan banyak pihak dari seluruh dunia. Jika proses-proses pembangunan dan pengelolaannya tidak didasarkan standar internasional, maka saham perusahaan tidak akan laku di pasar modal internasional. Hal itu juga akan berarti, bahwa perusahaan pasir besi di KP turun standarnya menjadi “penambangan rakyat” yang ecek-ecek saja. Jika demikian, jangan harap KP akan mendapatkan dana sekian puluh miliar setiap tahun dari pengolahan pasir besinya.

Nah, dari kasus ini tampaknya penyiapan SDM KP sendiri perlu mendapat perhatian serius supaya mereka dapat masuk ke dalam perusahaan tersebut dengan cara lolos saringan uji standar internasional. Mengapa ada tugas menyiapkan SDM KP secara lebih intens ? Saya kira, telah menjadi rahasia umum bahwa tradisi ngenger atau koneksi sebagai jalan memperoleh pekerjaan hingga saat ini masih bercokol di Indonesia . Tradisi tersebut belum digantikan oleh tradisi modern yang berbasis kompetensi. Pada beberapa data laporan tampak bahwa SDM KP secara umum tertinggal dari SDM kabupaten lain atau menurut standar tertentu kurang baik.

Banyak pertanyaan dapat dilontarkan. Pertanyaan mendasar yang pertama adalah: siapkah SDM KP mengisi lowongan pekerjaan di perusahaan pasir besi melalui rekrutmen dengan standar internasional ? Siapkah pemda menyiapkan SDM KP untuk meraih kesempatan mengisi lowongan pekerjaan di perusahaan itu ? Siapkah bidang pendidikan di KP dalam mempersiapkan SDM KP berbagai disiplin untuk membekali SDM KP yang kompeten, sehingga lolos uji standar SDM internasional ? Siapkah SDM KP menjadi tenaga cleaning service atau satpam berkualifikasi internasional ?

Dibalik banyak kekuatiran saya melihat berkah yang mungkin dapat diraih. Barangkali dengan pemberitaan yang lengkap dan benar tentang proyek pasir besi akan segera muncul kursus-kursus bahasa Inggris menjamur di KP. Orang KP akan ramai-ramai berusaha menguasai ketrampilan menggunakan komputer supaya menjadi SDM handal yang memiliki literasi digital tinggi. Barangkali semangat belajar anak-anak KP akan meningkat, sebab ingin meraih lowongan pekerjaan di perusahaan tersebut supaya tidak perlu menjadi TKI di luar negeri. Barangkali orang KP mulai berlatih disiplin dengan menerapkan disiplin diri yang ketat, sebab perusahaan berstandar internasional selalu menerapkan disiplin ketat, jam karet akan menjadi ceritera lama !

Tampaknya tugas menyiapkan SDM KP yang mampu lolos uji rekrutmen berstandar internasional sangat diperlukan dan mendesak dilakukan. Persoalannya, siapa yang secara khusus melakukan dan mengawal persiapan itu ?

Djarot Purbadi

(Catatan: ada culture shock pertama, maka ada yang kedua, ketiga dst. akan ditelusuri bertahap, untuk meningkatkan kesadaran kritis warga MWK dan masyarakat KP umumnya yang sempat membaca tulisan-tulisan tersebut).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: