Posted by: djarotpurbadi | January 21, 2009

Informasi Hasil Kunjungan ke Proyek Percontohan di Trisik

Siang hari Minggu 18 Januari 2009 beberapa personil MWK berkunjung ke proyek percontohan penambangan pasir besi di pantai Trisik. Kami diterima dengan sangat ramah dan terbuka, bahkan diperkenankan melihat seluruh area proyek dengan didampingi personil JMM yang kompeten memandu kunjungan kami. Kunjungan dimulai pukul 11.00 dan berakhir pukul 15.00, diawali dengan penggalian informasi tentang rencana penambangan dan masalah-masalah yang dihadapi, diteruskan dengan kunjungan ke bagian-bagian proyek tersebut. Kami melihat semuanya dengan cemat sambil berdiskusi. Catatan ini memuat informasi yang diharapkan dapat memperjelas aktivitas penambangan pasir besi yang sedang hangat diperbincangkan. Semoga informasi yang diperoleh ini dapat bermanfaat bagi warga KP, khususnya yang ingin tahu lebih jauh tentang aktivitas penambanan pasir besi di pantai selatan KP.

Keberadaan “proyek penambangan dan pengolahan pasir besi” di KP secara nasional sangat penting sebab merupakan industri yang memproduksi bijih besi untuk menunjang industri logam di seluruh Indonesia. Selama puluhan tahun Indonesia menduduki posisi sebagai importir besi dan baja, maka keberadaan proyek pasir besi di KP terkait dengan upaya membangun kemandirian Indonesia dalam industri besi dan baja nasional. Kemandirian tersebut sangat penting, sebab memperkuat industri besi dan baja nasional. Oleh karenanya, perjuangan mendirikan industri penambangan dan pengolahan pasir besi di KP mengandung substansi perjuangan nasionalisme melawan penjajahan modern, yaitu memerdekakan Indonesia dari ketergantungan berlebihan terhadap impor besi dan baja. Perlu diketahui juga, PT Krakatau Steel saat ini harus import bijih besi dari negara lain atau melebur besi-besi tua di Indonesia untuk memproduksi besi dan baja, maka jika bisa membeli dari KP tentu beayanya bisa lebih murah dan harga besi-baja nasional menjadi murah. Efek lain, aktivitas produktif masyarakat KP menjadi berkembang karena tercipta ribuan kesempatan kerja karena tergandeng dengan industri besi dan baja yang menjadi salah satu pilar kegiatan penting di KP.

Selama ini industri besi dan baja Indonesia lemah karena kita nggak punya pabrik bijih besi. Indonesia selalu dalam posisi sebagai pasar atau konsumen yang memiliki ketergantungan kuat dari negara-negara penghasil biji besi. Kita harus membeli kapal perang dari negara lain, sementara pasir besi di KP tidur mendengkur dan tidak digarap. Aneh juga Indonesia ini, kapitalisme ditentang tetapi perjuangan untuk menuju kemandirian tidak mendapat dukungan. Kelompok yang berseberangan masih belum mau memahami pentingnya industri pengolahan pasir besi menjadi bijih besi ini, yang secara konsep dirancang dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.

Beberapa karyawan JMM tidak luput dari masalah karena bekerja di unit percontohan yang ada di Trisik. Ada contoh, pekerja JMM yang berasal dari orang lokal mengalami isolasi sosial, bahkan ada tiga orang yang menjadi non-aktif dan terpaksa keluar desa (tinggal di tempat lain) karena stress dan ketakutan akibat tekanan sosial yang dialami, namun JMM masih memberi gaji kepada mereka. Mereka mungkin dapat merasa aman di tempat lain tetapi mertua dan keluarga yang masih tinggal di desa juga mengalami situasi kehidupan yang tidak nyaman. JMM tidak mungkim memPHK mereka, sebab hal itu akan menjadi titik lemah keberadaan mereka dan itu resiko perusahaan yang harus ditanggung.

Keberadaan instalasi proyek di Trisik hingga saat ini hakekatnya masih dalam status proyek percontohan, jadi masih dalam tahap penelitian, belum produksi dan komersial. Jadi masih berupa miniatur. Tahap komersial proyek ini baru akan terjadi sekitar 2-3 tahun lagi. Jika halangan dari kelompok penentang terlalu besar dan mampu menggagalkan proyek pasir besi, maka hal itu dapat disebut sebagai force majeur; proyek ditutup karena force majeur. Akibatnya, investor pergi menanggung kerugian, masyarakat KP rugi sendiri, sebab investasi sekian triliun gagal dihadirkan untuk mengelola harta karun nenek-moyang. Celakanya, nama KP juga akan tercemar sebagai daerah yang sulit menerima investasi.

Ada informasi bahwa pihak PA saat ini sedang mengadakan usaha penataan berkaitan dengan lahan PA yang ada di pantai selatan. PA tampaknya akan menerbitan serat kekancingan yang menyangkut lahan PA di pantai selatan itu. Serat kekancingan ini dapat digunakan oleh masyarakat pengguna lahan PA sebagai jaminan dalam proses pengganti-untungan kelak pada waktunya dan memberikan jaminan kepastian bahwa lahan tidak akan dikuasai (permanen) oleh investor. Tindakan tersebut disambut baik oleh JMM sebagai langkah yang sangat bijaksana.

Beberapa waktu yang lalu pihak UGM telah membatalkan kerjasama dengan JMM dalam melakukan penelitian, padahal demplot lahan untuk penelitian telah disiapkan oleh JMM di sisi selatan basecamp mereka. Tim UGM tersebut sebenarnya akan didampingi kelompok petani lokal yang juga akan melakukan penelitian yang sama. Kelompok petani lokal menjadi semacam kelompok pembanding di dalam penelitian tersebut. Keduanya sudah diberi fasilitas demplot lahan di sisi selatan basecamp, dan lahan itu sekarang dalam keadaan nganggur, sebab penelitian urung dijalankan.

JMM sebagai perusahaan publik bekerja sesuai dengan aturan-aturan internasional, sebab dananya berasal dari dana publik internasional. JMM juga melihat, jika keberadaan JMM menimbulkan konflik horisontal, maka JMM merasa gagal dan tidak ada artinya ada di KP. Konflik horisontal yang membenturkan masyarakat dengan masyarakat berbasis isu JMM merupakan salah satu celah yang potensial dikembangkan, sebab aspek pencemaran lingkungan atau perusakan lingkungan pada proyek pasir besi tampaknya tidak terlalu kuat untuk diangkat sebagai isu sentral. Jargon yang berkembang di lapangan adalah penambangan menggusur pertanian dan hal itu keliru sebab skenario JMM tidaklah demikian. Selain itu, penambangan tidak menggunakan bahan kimia dan tanah yang ditambang direklamasi dengan jaminan siap ditanami untuk dikembalikan kepada yang berhak, meskipun permukaannya turun sekitar rata-rata satu meter. Hal ini wajar sebab kandungan Fe diambil namun tanah justru disuburkan olehnya. Petani tidak perlu lagi menggali lubang dan mendatangkan tanah subur dari tempat lain, sebab aktivitas penambangan justru menyuburkan tanah dengan cara mengurangi kandungan Fe pada kandungan pasir besi.

JMM mengaku sudah melakukan banyak sekali sosialisasi dan merasa telah kehabisan kata-kata serta akal bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa penambangan dan pengolahan pasir besi di KP dapat memajukan KP, DIY dan bahkan Indonesia. Ada jargon lapangan yang mengatakan bahwa sebaiknya JMM mengubah namanya menjadi PT SOSIALISASI, sangking banyaknya aktifitas sosialisasi yang ditangani. Ada gagasan sebaiknya sosialisasi bukan dari JMM sebab terminologi sosialisasi itu sendiri sudah bias atau dibelokkan artinya. Banyak saluran atau pilar sosialisasi yang dapat dimanfaatkan untuk memberi pemahaman yang benar sekaligus mencerdaskan masyarakat KP tentang penambangan dan pengolahan pasir besi. Sosialisasi harus dilakukan pihak lain yang netral, termasuk tidak boleh menerima dana dari JMM supaya netralitasnya terjamin.

Pihak JMM sebenarnya punya skenario besar, yaitu berpartisipasi dan membantu pengembangan masyarakat di KP bagian selatan. Mereka tidak hanya fokus ke pasir besi tetapi juga akan berpartisipasi dalam pengembangan nelayan, pertanian, dsb yang ada di KP bagian selatan. Contohnya, pelabuhan ikan semestinya punya tempat pendinginan ikan, supaya nelayan tidak didikte pembeli / tengkulak jika harga ikan menurun. Ikan bisa disimpan dengan beaya murah di rumah pendinginan ikan sampai harga membaik. dsb dsb dsb. Hal ini ingin dilakukan sebab pimpinan JMM sebenarnya adalah orang Jawa/ Jogja, jadi ada keinginan memajukan DIY secara keseluruhan melalui proyek di KP. Jadi sebenarnya KP tidak mengundang investor dari luar negeri, melainkan dari Jogja sendiri (memang dari luar KP).

Bagi JMM pantai selatan KP yang selama ini dikenal dengan sebutan daerah pertanian sebenarnya ingin dilengkapi dengan kehadiran penambangan yang bersahabat dengan pertanian. Bertani di lahan pasir besi itu sangat berat dan menurut penyelidikan sementara generasi muda lokal tampaknya enggan bertani seperti generasi tua, yaitu rajin menjinjing air untuk membasahi tanaman setiap hari. Ada perubahan jaman yang mesti diperhitungkan dengan cermat. Menurut JMM penambangan pasir besi dirancang tidak mengurangi atau menggusur pertanian, melainkan melengkapi potensi pantai selatan KP. Jadi persepsi yang mengatakan penambangan akan menggusur pertanian sebenarnya keliru, sebab konsep yang dikembangkan adalah penambangan dan pengolahan pasir besi yang ramah lingkungan. Blok bekas penambangan akan direklamasi hingga siap ditanami kemudian dikembalikan kepada yang berhak; hal itu mendapat garansi atau jaminan dari JMM.

Mengingat silent majority yang ada di KP, sebaiknya MWK berada di pihak yang netral, dengan mengembangkan kegiatan yang sifatnya mengawal proses pengembangan proyek pasir besi tersebut secara khusus, misalnya melalui mining watch atau yang lain. MWK sebaiknya berperan sebagai jembatan informasi yang memberikan informasi yang benar (lengkap dan detil) tentang penambangan dan pengolahan pasir besi kepada masyarakat agar masyarakat KP semakin cerdas dan mampu menentukan pilihannya secara sadar dan otonom, yaitu menurut hati nurani sendiri dan tidak mudah dipengaruhi oleh media atau siapapun yang umumnya mengandung bahaya berupa bias informasi. Hal ini perlu dilakukan sebab masyarakat tidak menerima informasi secara seimbang atau tidak lengkap. MWK hanya memiliki satu kepentingan yaitu berpartisipasi memajukan KP.

Lain-lain pertama: Kunjungan sempat melihat lingkungan internal proyek percontohan di Trisik itu dan mendapat penjelasan bagaimana instalasi yang ada saat ini (miniatur) sangat bersifat ramah lingkungan. Peserta kunjungan juga melihat deposit pasir besi yang telah disaring sekali dan dua kali, harta nenek-moyang yang masih tersimpan di tepi pantai itu. Pihak JMM memantau secara teratur permukaan dan kualitas air tanah di lingkungan proyek dengan peralatan canggih. Bahkan JMM juga memantau arah angin, kecepatan angin, tinggi gelombang laut setiap detik dengan peralatan yang sangat canggih (wireless dan digital). Jika mau tahu tinggi gelombang setiap hari ya datang ke laboratorium JMM. Petugas sempat mendemonstrasikan alat canggih (digital) untuk mengukur kadar besi dalam pasir besi yang telah disaring sekali dan dua kali. Para pekerja JMM yang orang lokal terkesan sangat memahami tugasnya dan ramah serta mampu memandu kunjungan dengan baik, sesuai dengan persyaratan keamanan kerja yang menjadi aturan di dalam proyek percontohan di Trisik itu. Kesan yang terbentuk adalah bahwa JMM profesional dan sangat serius dalam mengelola penambangan dan pengolahan pasir besi di KP.

Lain-lain kedua: Dari perbincangan yang cukup lama pada siang hari yang panas, dapat diketahui bahwa beberapa personil kunci JMM adalah orang Jawa yang masih memiliki garis keturunan dengan seorang pahlawan Nasional yang disegani dalam perang melawan Belanda di masa lalu. Mengapa beliau-beliau memilih KP ? Tampaknya inspirasi menentukan lokasi di KP tidak main-main, sebab ada tuntunan dari leluhur mereka tersebut. Tulisan ini bukan mistifikasi atau dramatisasi situasi, tetapi ungkapan sebuah kejujuran yang patut diketahui, sebab kalau KP mau maju ya perlu kerjasama dengan investor yang khusus. Mengandalkan kekuatan KP sendiri tentu nonsens, lha ini ada teman dari Jawa sendiri yang canggih datang. Saya jadi teringat, Nyai Ageng Serang di masa lalu juga menjadi pendukung Sang Pahlawan Nasional itu. Lantas apa maknanya patung Nyai Ageng Serang diletakkan di proliman kota Wates ? Kini anak-cucu keturunannya datang di bumi yang sama dan ingin membaktikan dirinya membangun Bumi Binangun dengan niat yang sama, yaitu memerdekakan Indonesia (bukan hanya Jawa) dari penjajahan model baru berupa ketergantungan ekonomi. Ternyata memperjuangkan hal yang sama dengan niat baik dan semangat nasionalisme yang tinggi pada masa kini tidak selalu mudah !

Selesai.


Responses

  1. Ada yg kelupaan pak Djarot, kita dijamu makan siang, setelah makan siang baru melihat2 lokasi pilot project. eh foto2nya mana yah, sapa yg mau upload di milis??

  2. Kurang sedikit tambahan Pak, tapi ini butuh ahli bidang pertanian. Komposisi tingkat kesuburan pasir setelah dan sebelum di tambang. Guna penanaman benih lagi. mohon di cross check kan ke yang lebih tahu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: