Posted by: djarotpurbadi | January 21, 2009

Sedikit tentang Lutfi Heyder

Saya putro Indonesia, pada tahun 1994/95, saya mencermati perindustrian baja nasional, mengingat baja dibutuhkan utk pembangunan, selama 8 tahun saya mencari celah bagaimana caranya membantu industri baja nasional, yang sampai saat ini 100% bahan bakunya di import, tidak saja ketergantungan pasar international namun juga harus dibeli dng U$!!!

Untuk itu saya mendalami dan menemukan technology yg bisa membuat bahan baku baja dng menggunakan pasir besi (bukan biji besi). Biji besi tidak ada di Indonesia, tentu ada!! Sayangnya jumlah dan spesifikasinya tidak ekonomis.

Untuk itu saya mulai di Kulon Progo, saya sudah mencoba utk komunikasi dng masyarakat langsung, namun selama 2 tahun saya dihalang halangi, bahkan beberapa sosialisasipun team saya diusir sebelum membuka bicara.

Pemerintah pusat maupun daerah sama, tidak ada yg dipengaruhi oleh pemilik modal, bedanya pemerintah mau melihat dan mendengarkan paparan team saya, dan mau berdebat secara ilmiah/economic, dan mudah2an dng adanya weblog ini, terbuka industry baja, Dari Kulonprogo, utk jogja, dari jogja utk Indonesia dari Indonesia utk dunia, amien.

Lutfi Heyder

CATATAN:

Pak Lutfi Heyder, namanya aneh di dalam benak saya jika panjenengan orang Jogja, tetapi okelah sebab mungkin ada darah leluhur dari mancanegara, kita syukuri. Saya sudah mendengar tentang bapak dan teman-teman bagaimana memaknai semangat nasionalisme melalui kegiatan nyata menambang pasir besi. Saya sangat terharu mendengar hal itu, lebih-lebih tahu ada semangat Pangeran Diponegoro di dalam jiwa tim yang bapak pimpin. Semoga Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk kita semua dalam memajukan Kulon Progo yang sekarang statusnya termasuk kabupaten yang mengkis-mengkis asma !

Salam,
Djarot Purbadi


Responses

  1. Pengembangan (tambang) Pasir Besi di KP seperti halnya pertambangan lain di Indonesia selalu memiliki dua sisi: menguntungkan dan merugikan. Masing-masing orang memiliki perspektif yang berbeda, tergantung dimana posisi mereka. Yang merasa diuntungkan atau melihat keuntungannya entah bagi diri sendiri maupun orang lain, tentu akan cenderung berpendapat positif, sebaliknya yang tidak melihat manfaatnya tentu akan berpendapat sebaliknya. Apalagi yang dirugikan, pendapatnya bisa jauh lebih ekstrem bahkan bisa bertindak destruktif.

    Menurut saya, tambang dari ‘sana’-nya memiliki dimensi yang rawan kecemburuan sosial. Para pekerja dengan mobil ranger atau strada, gaji yang tinggi, fasilitas yang bagus pasti memancing social jealousy alias sujanan sosial.

    Belum lagi implementasi desain pertambangan di lapangan. Banyak tantangan untuk merealisasikan desain termasuk didalamnya desain environment dan reclamation, sehubungan dengan cost dan lain hal. Misal mengenai reklamasi, harus dimulai bahkan sebelum tambang ini menghasilkan uang. Padahal pos lain juga perlu disuntik termasuk didalamnya pungli.

    CSR, banyak perusahaan melakukan CSR secara sporadis dan temporer. Di perusahaan tambang tempat saya bekerja, biasa Community Development diambil dari biaya produksi bukan dari keuntungan, setiap sekian ton biaya CD/CSR nya sekian. Jadi mau untung atau tidak, alokasi untuk biaya ini tetap ada.

    Kondisi pemerintahan dan administrasi negara (polisi, tentara dll) harus siap menyukseskan proyek ini jika memang mau proyek tambang ini diperuntukkan bagi kesejahteraan bersama. Jangan sampai ‘jatah’ untuk orang-per orang di pemerintahan justru memberatkan perusahaan untuk menyejahterakan rakyat. Memang perusahaan merasa sudah selesai dengan membayar pajak dan royalti, tetapi dengan kondisi pemerintahan yang tidak efektif dan efisien, orang akan tetap melihat perusahaan sebagai biang keladi segala akibat operasinya nanti.

    Di Thailand, ada sebuah tambang batubara kecil (jika skalanya dibanding tambang batubara di Indonesia) tetapi begitu mine-closure daerah yang ditinggalkannya menjadi lahan yang loh jinawi. Menurut saya, kuncinya adalah efisiensi, dan efektivitas dalam memanfaatkan rejeki tambang, oleh semua pihak: perusahaan, pemerintahan, organ negara yang lain dan masyarakat.

    Mine-closure planning juga harus dilakukan sejak dari awal, dan akan beroperasi bahkan bisa sampai 5 tahun sejak tambang sudah ditutup.

    Begitu saja curhat saya soal pasir besi, dari orang yang sama sekali tidak pernah belajar pertambangan tetapi bekerja di tambang batubara, dari sisi pekerjaan komunikasinya.***

  2. jogjakarta umumnya dan kulonprogo khususnya perlu orang-orang yang punya gagasan dan ide cemerlang.

    Industri wisata dan pendidikan di DIY mulai tergerus, sudah saatnya dilakukan pengembangan dari sisi sumberdaya alam.

    kulonprogo perlu orang seperti pak lutfi.
    selamat bekerja dan semoga sukses membawa kemajuan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Terima kasih
    salam hangat
    Wigi

  3. Pak Djarotpurbadi, maaf sebelumnya klo saya agak menyimpang. Saya hanya mohon izin saja untuk bisa mendapatkan info mengenai PT. JMI, perusahaan yg bpk. Lutfy pimpin. Saya bekerja di PT. Indothermal di Jakarta, yg bergerak di bidang refraktories, yaitu produk2 yg aplikasinya untuk dapur pengolahan yg mempergunakan temperatur tinggi (up 1000 derajat) contohnya semen tahan api (Castables) dan Fire Bricks (batu bata tahan api).
    Jadi apabila diizinkan dan saya bisa mendapatkan informasi tsb, saya bisa mencoba mengajukan kerja sama dengan perusahaan beliau.

    Terima kasih atas kesempatannya

    salam sejahtera


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: