Posted by: djarotpurbadi | February 18, 2009

Usulan Nama Wates diubah menjadi Adikarta / Adikarto !

Ass. wr. wb.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Saya adalah mantan abdi masyarakat Kabupaten Kulon Progo pada jaman pemerintahan pak Bupati KRT Wijoyohadiningrat, dan sekarang saya bertugas di Depdagri (Ditjen Bina Pembangunan Daerah). Meski saya kelahiran Kota Yogya, namun sampai saat ini saya memiliki ikatan emosional dengan Kabupaten Kulon Progo.

Pada tahun 80-an akhir, saya pernah mengusulkan perubahan Nama Ibukota Kabupaten Kulon Progo, yang pada saat itu bernama WATES, dan saat inipun masih bernama Wates. Pada saat itu Bapak Bupati menyetujui perubahan nama tersebut, namun setelah disampaikan ke DPRD tidak mendapatkan persetujuan.

Pada saat ini, saya bermaksud menyampaikan gagasan tersebut kembali untuk mendapatkan tanggapan warga Kabupaten Kulon Progo. Karena menurut hemat saya perubahan nama tersebut sangat diperlukan dalam menyongsong masa depan Kota Wates pada khususnya dan Kabupaten Kulon Progo pada umumnya.

Nama merupakan sesuatu yang penting

Nama dapat memberikan suatu gambaran (citra). Nama juga dapat menggambarkan suatu jabatan (strata) tertentu. Lebih-lebih pada tradisi atau budaya Jawa. Kota Yogyakarta, pada awal mulanya bernama desa Mbering, kemudian setelah dibangun menjadi kota, diberi nama Ngayogyakarta.

Budaya Jawa memiliki tradisi merubah nama. Nama pada masa kecil seseorang, akan disesuaikan setelah seseorang tersebut menginjak dewasa (berumah tangga), sehingga ada nama muda, ada nama tua. Misal : Nama muda Sujono, setelah menikah diberikan nama baru : Wijoyoseno.

Demikian juga kota Wates, untuk menyongsong masa depan sudah selayaknya diberikan nama baru yang lebih bisa menggambarkan suatu kemajuan. Karena ditinjau dari arti, menurut kepercayaan Jawa, kurang menguntungkan. Wates memiliki arti batas. Karena dulu memang merupakan batas wilayah antara wilayah Kasultanan dan wilayah Pakualaman. Dengan arti sebagai batas, maka terkesan kecil/terbatas. Hal ini yang dipandang kurang menguntungkan. Karena menjadi sangat sederhana, hanya merupakan batas.

Padahal kita berharap, kota Wates akan menjadi Kota yang berkembang pesat yang mampu menandingi kota Purworejo dan Kota Yogya, yang memiliki “kekuatan magnet” yang besar (kuat). Sehingga warga kotanya tidak terpengaruh oleh Kota Purworejo maupun Kota Yogya dalam berbelanja misalnya, dan juga untuk hal-hal yang lain. Di Kota Wates juga akan tumbuh fasilitas-fasilitas perkotaan yang memadai yang menjadi magnet lingkungannya. Justru orang-orang Yogya yang akan sering2 terdorong untuk datang ke Wates untuk mengeluarkan duitnya. Jangan hanya orang Wates yang selalu terdorong untuk datang ke Yogya untuk berbelanja (mengeluarkan duwitnya).

Tinjauan Sejarah dan Usulan Nama

Kabupaten Kulon Progo menurut sejarah adalah gabungan 2 (dua) Kabupaten, yaitu Kabupaten Kulon Progo beribukota di Sentolo (wilayah Kasultanan) dan Kabupaten Adikarto beribukota di Wates (wilayah Pakualaman).

Pada tahun 50-an kedua Kabupaten tersebut disepakati untuk digabungkan, dengan alasan terlalu sempit masing-masing wilayahnya sehingga untuk suatu Kabupaten dipandang tidak efisien.

Pada saat rapat penggabungan di Sentolo, Ngarso Dalem Kaping IX mengajukan usul, ibukota Kabupaten yang baru nanti ada di Wates (wilayah Pakualaman). Dengan usulan tersebut, Sri Paduka Pakualam VIII sebagai orang Jawa merasa tidak enak, membalas dengan mengusulkan nama Kabupaten yang baru bernama Kabupaten Kulon Progo (nama wilayah Kasultanan). Demikianlah maka kedua usulan tersebut akhirnya disepakati bersama, dan langsung ditetapkan. Dengan kesepakatan tersebut, maka ada nama yang hilang yaitu nama ADIKARTO, yang dahulu merupakan nama Kabupaten. Sehingga anak-anak jaman sekarang jarang yang tahu tentang Adikarto tersebut. Yang setengah tua saja terkadang juga tidak tahu.

Selanjutnya dengan pertimbangan nguri-nguri nama yang hilang tersebut, dan nama tersebut tampak juga keren (memiliki nilai jual) maka tidak berlebihan bila nama Kota Wates diusulkan untuk dirubah menjadi Kota ADIKARTA.

Selain dari pada itu, ditinjau dari ARTI, juga sangat bagus. Adi artinya bagus, sedang Karta artinya sejahtera. Karta juga nunggak semi nama-nama ibukota Mataram. Yang dimulai dari Kota Karto (wilaayh Kotagede) kemudian pindah ke Kartosuro dan pindah lagi ke Surokarto, kemudian pecah menjadi dua: Surokarto dan Ngayogyakarto, yang dalam bahasa Indonesia kemudian menjadi Yogyakarta.

Kesimpulan

Dengan pertimbangan menyongsong perkembangan kota, serta pertimbangan sejarah, maka tidak berlebihan bila Nama Kota Wates diusulkan untuk dirubah dengan nama Kota Adikarta. Tentang perubahan nama yang akan memiliki konskuensi administratif dan hukum kiranya tidak perlu dikhawatirkan. Pengalaman perubahan nama Kota Makassar yang berganti menjadi Kota Ujung Pandang konsekuensi adminstratif dan hukum nya tidak merupakan sesuatu yang terlalu menggangu (merugikan).

Demikian dan terimakasih.

Salam,

Cahyo Hatta – Jakarta


Responses

  1. ya kalo ganti nama bisa membuat kulon progo maju apa salahnya, toh itu pun demi warga kulon progo juga.

  2. YAPZ SANGAT SETUJU SEKALI… KULON PROGO/WATES BERUBAH JADI ADIKARTO
    KALO PERLU KULON PROGO BERUBAH JADI YOGYA BARAT…

  3. Pak Cahyo, saya kebetulan bekerja sebagai konsultan manajemen nasional PNPM Mandiri Perdesaan, di bawah Dirjen PMD, Depdagri.

    Kebetulan pula saya adalah sekretaris umum Badan Koordinasi Paguyuban Kulon Progo (Bakor PKP). Kami bisa merekomendasikan suara para perantau. Dan kebetulan paguyuban perantau KP yang telah bergabung dalam Bakor PKP adalah Paguyuban Warga KP di Lampung, Banten, Jabodetabek, Bandung, Bali, Kaltim dan Kalbar. Di Singapura juga sudah ada paguyuban KP di sana. Bahkan Pak Bupati sendiri yang meresmikannya.

    Mungkin sangat menarik dan saatnya gagasan ini untuk kita ledakkan. Dan saya yakin sebagian besar warga KP akan mengamini gagasan ini.

    Untuk lebih intens, alangkah baiknya Pak Cahyo bisa bergabung dalam Bakor PKP yang minggu depan (Rabu, 13 Mei 2009) kita akan kumpul di ciracar, rumah ketua umum.

    Kantor saya di graha pejaten No 2, Jl raya pejaten, Pasar Minggu. Hp saya 0813 1075 7348.

    Salam dan terimakasih

    Agus Triantara

  4. Mas Agus, kalau tidak salah beberapa waktu yang lalu Bapak Bupati memberi nama resmi pelabuhan di Glagah (?) dengan nama TANJUNG ADIKARTO, beritanya di muat di KR. Lha apakah ini bukan sinyal alias sasmito yang jelas bahwa Beliau setuju sekali dan sangat setuju jika Wates menjadi ADIKARTO !!!

    • Lha iya to mas ! Wis ora mamang maneh nek gagasan ini diletupkan ke permukaan. Pitakone dudu sapa sing ndukung maneh, ning kira-kira sapa sing arep ngalang-alangi ? Terus apa alesane ora ndhukung ?

      Nuwun sewu iki kesempatan tak nggo ngenalka visi lan misi Bakor PKP kanggo para sedulur KP. Fungsi Bakor salah sijine ki go nyuwarakake aspirasi perantau sing kaya ngene iki lho mas ! Ning nek ana aspirasi sing berseberangan karo paradigmane pemda, ya aja salah tampa nek kudu dipacak dhisik supaya katon ayu tur gawe seben wong kesengsem. Iki karakter sing lagi tak bangun kanggo fondasi spiritual Bakor PKP.

      Lha wong awake dhewe ki ora saben dina ketemu, koq milih menu sing konfrontasi. Kan ya malah ngadohke silaturahmi ? Mengko nek perantau duwe gagasan sing apike kaya apa, mesti wae ra bakal digape merga atine wis kethik ta ?

      Mangga kapan gagasan iki dibulatke, Bakor PKP siap merekomendasikan ke pemda KP. Nuwun mas.

  5. Wah hebat tenan. Mas, kadosipun kita perlu melakukan tindakan nyata untuk proses formal. Bagaimana konsep Bakor PKP untuk aksi di lapangan, sebab kalau kami dari MWK rasanya kok kecil bak semut, sementara Bakor PKP kan yang terjalin di dalamnya sangat banyak. Jika ada aksi di lapangan saya sanggup terlibat. Nyuwun saran panjenengan, sebab teman-teman MWK kayaknya sudah sepakat bulat asalkan selalu demi kemajuan KP yang sejati !

  6. Mas Djarot, jane Bakor PKP ki ya ra duwe apa-2. Mung duwene pemikiran lan posisi strategis.

    Ning ya alhamdulillah, nek saiki neng Wates ada Nyadran Agung saben tahun, KP wis nduwe brand image “Kab herbal”, iku atas usulane Bakor PKP. Gerakan Sesaba KP jane ya wis direspon positif ro Bupati, ning durung dilanjut sampai program aksi. Perlu sak genjotan !

    Bab ganti jeneng iki mas, Bakor PKP siap memfasilitasi untuk menyampaikan aspirasi. Ning aspirasi iku luwih berbobot menawa ana kajian awale. Ora kudu ilmiah lan studi khusus.

    Masalah engko kudu ana tindak lanjut sing luweh jero, ya wis dadi kewajibane eksekutif lan legislatif to ngrespon aspirasi warga. Termasuk kudu nganggarke APBD, yen iku dinilai urgen.

    Awake dewe ki mung urun rembug, urun gagasan kanggo majune daerah. Nuwun.

  7. Sangat setuju. Suatu gagasan jitu. Gimana kalau mulai sekarang kita2 yg sejalan sudah mulai mensosialisasikan ADIKARTO dlm kesehariannya, supaya masyarakt Kulon Progo mulai terbiasa dan menambah gema dukangan perubahan nama ini.

  8. Nambah info, nama angkutan kota wates (yg populer disebut unyil) namanya ADIKARTA. Aspirasi nyata yang sudah memasyarakat.

    Untuk menimbang untung ruginya, manfaat jangka pendek jg panjangnya, efek samping kiri kanan depan belakang, tentu tidak cukup dengan opini. Tidak cukup dengan diskusi. Tetapi perlu mekanisme ilmiah yaitu studi kelayakan atau kajian mendalam denganberbagai dimensi. Perlu tim khusus, anggaran khusus, dukungan khusus agar tidak terhenti karena ganti bupati.

    Siapa yang harus melakukan studi ? Kalau ini sudah menjadi aspirasi banyak anggota masya KP, tentu menjadi tugas pemerintah dengan APBD yang ada.

  9. wates adikarto

  10. kenapa masi mengikutkan nama wates….krn nama itu sudah familiar ditelinga seluruh dunia…dipeta nama wates jelas, kl langsung dirubah dengan menghilangkan wates nya orang akan bingung dg adikarto….tp dg wates adikarto akan membantu pengenalan adikarto.

    salam..

  11. Ooooops mau ganti nama? Silahkan saja, asal lebih memberi manfaat. Soal nama-nama tempat itu ada ilmunya sendiri yang dikenal dengan TOPONIMY yang merupakan bagian dari ilmu KARTOGRAFI. Sebelum memutuskan ganti nama tempat, apapun nanti namanya, kaji dulu nama yang sudah ada dalam kaitannya dengan sejarah dan makna nama itu. Apakah plus minus nama lama dan nama baru dan seterusnya….
    all the best

  12. Pak Riyanta, posting ini menambah wacana dan wawasan, belum siap untuk mengganti nama, sebab prosesnya memang rumit.

  13. Kulon progo binangun…. seharusnya jangan cuma jadi slogan… sy alsi kulprog dr sy sd sampe anak sy hampir lulus sd , begitu2 saja apa lagi klo kita kita menjelajah/lewat kulprog wil utara sangat. sesungguhnya wil kulprog potensinya tak kalah dgn wil lain di jogjakarta. keindahan alamnya dr laut sampai puncak suroloyo mempunyai kekhasan tersendiri, wisata laut,,, dgunung… dan ada juga wisata ziarah… di jogjakarta hanya da 1 waduk dan itu berada di wil kulprog… hanya saja pemda kulprog kurang atau bahkan tdk tau bagaimana mengelola sumberdaya tersebut…Lihatlah jalan2 di gunungkidul lurus mulus sekarang lewatlah di jalan wates ke magelang dr perempatan kenteng k utara.
    Soal nama sy sangat setuju klo nama adikarta itu di populerkan lagi.. krn sy tau nama adikarta jg blm lama.. apalagi anak cucu kita…
    sy lama tnggl di papua org luar daerah lebih mengenal gunung kidul drpd wates/kulprog…
    Swedihh aku….
    dan marilah skrng mulai kita populerkan apa yg ada di kulprog terutama apa yg ada di sekitar kita dulu… apapun itu bentuknya janganlah fanatik yg kita kedepankan.. krn itu hanyalah pembodohan… agar kulprog tdk maju dan berkembang….

  14. Saya yang lahir didusun Serut Desa dan Kecamtan Pengasih, walaupun karena tugas tak pernah tinggal di Kulon Progo/DIY,sejak lama saya juga merasakan tidak srek dengan nama kota Wates, baik alasan arti katanya maupun karena didaerah lain juga dipakai sebagai nama tempat. Didaerah Kabupaten Kediri dan Magelang ada tempat/kota yang juga bernama Wates. Karenanya selama saya tinggal diluar DIY saya lebih sering mengatakan berasal dari Yogya yang semua orang pasti tahu. Saya sangat sependapat kalau nama kota Wates ibukota Kabupaten Kulon Progo diganti. Hanya maaf saya berpendapat bukan Adikarto sebagai gantinya. Kata Adikarto menurut pendapat saya lebih cocok untuk nama bandara internasional yang akan dibangun dibekas Kabupaten Adikarto, sebagai penyeimbang di Sala ada bandara bernama Adisumarmo. Sebagai pengganti nama kota Wates ibukota Kabupaten Kulon Progo saya usulkan Menoreh atau Raden Singlon. Nama Menoreh sudah dikenal luas, sedang Raden Singlon adalah putera P.Diponegoro yang meneruskan perjuangan P.Diponegoro didaerah Kulon Progo dan wafat dimutilasi oleh Kumpeni dan dimakamkan disekitar Wates karena kepala dan badannya dikubur terpisah. Demikianlah, sekedar pendapat dan usul saya sekedar sebagai wujud rasa keterikatan hati saya kepada tempat kelahiran saya. (Nurrahmat Oentoeng Oetomo, Jl.Watu Gong no 9 Malang, Kp.65145 ).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: