Posted by: djarotpurbadi | May 11, 2009

Mari Mencari Brand Image Kulon Progo

Poro sederek ingkang minulyo..,

Tentang brand image untuk KP, ketika saya masih ngangsu kawruh di Yogya dulu, hampir pasti westprog itu identik dengan growol. Kalau habis pulang kampung, ditanyain temen2 kost oleh2 growolnya. Trus terang, saat itu saya malu. Bagi saya, temen yang tanya itu hanya ngledek, bukan kepingin growol,karena mereka rata2 “ngglendengi” growol yang bau kecut, seperti makanan busuk . Sehingga saya merasa growol hanya memberikan iamge kepada penduduk KP terbelakang dan miskin ( maaf, beribu ribu maaf ).

Tahun 1997 saya ajak principal saya dari Belgia muter2 Jogja, sampai ke sendangsono. Dan saya kasih dia growol, geblek dan tempe benguk yang paling enak ( menurut saya ), ternyata dia tidak doyan. Dari pengalaman tersebut, saya merasa segala upaya yang dilakukan untuk menjadikan ke tiga produk tersebut menjadi brand KP, tidak tepat. Sulit sekali dibawa ke arah global. Makanya ketika ada pawai pembangunan Sekda KP membuat GIA (Geblek Indonesia Airways) mau go international , saya mbatin, kalau yang punya Ide tersebut mikirnya nggak tenanan.

Brand image, menurut hemat saya, harus bisa diterima secara global, mendunia. Bukan hanya diterima oleh orang2 yang lahir dan besar di KP saja. Oleh karena itu, ketika ada pertemuan di Wisma Sermo th 2007, saya mengusulkan agar KP punya brand image yang bisa diterima global. Saat itu saya lontarkan usulan KP kabupaten Herbal, atau Wates Kota Herbal.

Pertimbangan saya, masyarakat dunia sudah mulai sadar untuk back to nature, Kulon Progo punya tanaman herbal yang banyak macamnya, dan saya denger kualitasnya sangat bagus, terutama temulawak dari bukit menoreh.

Nama Kota Herbal belum ada satupun daerah yang meng claim, bisa go international, dan rasanya lebih elit ( dibanding geblek ), disamping itu nilai ekonomisnya lebih tinggi. Saya yakin, kalau Wates atau KP punya brand image yang kuat untuk herbal, akan memberikan dampak yang besar pada pencapaian kesejahteraan masyarakat yang tinggal di KP.

Saya memimpikan kalau ada kata herbal disebut, Kulon Progo yang muncul dalam ingatan penduduk bumi. Sebagaimana kalau ada kata ukiran, Kota Jepara yang muncul, atauada orang kepingin berlibur di pantai, maka Bali akan muncul di ingatan pertama kali.

Makaten poro sederek, manawi sae monggo dipun sengkuyung, manawi kirang, dipun sempurnakaken, manwi awon, dipun tilar.

Salam, AHS

TANGGAPAN (1)

Wednesday, May 13, 2009 10:13 AM

Yth Mas Heri,

Saya terenyuh membaca nama growol, geblek dan tempe benguk, karena saya tidak bisa silak dengan makanan pokok itu saya dibesarkan dan sampai sekarang sehat walafiat serta alhamdulillah atas perkenan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan atas doa orang tua saya sudah mengunjungi 52 negara serta kakang dan adik adik juga tidak jauh berbeda. Saat saya kecil di desa Kulur kec. Temon. panen padi hanya setahun sekali, krn sawah orang tua tidak luas dan anaknya banyak, maka beras harus di irit-irit agar cukup setahun. Saya jalan kaki nurut rel kereta api untuk sekolah di Wates, kota yang penuh sejarah dan penuh kenangan getir bagi saya tetapi sangat saya rindui.  Apapun  kata orang tentang growol, saya akan senantiasa memperkenalkan makanan itu kepada anak dan cucu saya. Saya tidak akan melupakan sejarah agar tidak dibilang orang  “kacang lupa kulitnya” Maafkan saya Mas Heri menawi kelajuk atur kulo. terima kasih dan salam hormat saya untuk keluarga serta teman-teman sekulonprogo dimanapun.

Salam,
Syiar Uddin

TANGGAPAN (2)

Wednesday, May 13, 2009 10:32 AM

Wah… saya tak urun rembug sedikit ya. Terutama soal makanan tradisional dan perubahan nama kota.

1. Harus diakui, growol, gebleg dan tempe benguk adalah ciri khas Kulon Progo. Ciri khas adalah sesuatu yang ditempat lain tidak ada, itu difinisinya.
2. Harus diakui juga bahwa ketiganya telah ikut berjuang mengenyangkan perut wong Kulon Progo sampai pada era Listrik Masuk Desa sekitar tahun 80 an. Setelah itu ketiganya menjadi masa lalu, terutama bagi anak-anak yang lahir setelah masa itu.
3. Ketiga makanan tersebut identik dengan kemiskinan ? Dulu ya. Tetapi sekarang ketiganya menjadi makanan obat rindu bagi yang pernah mencobanya.
4. Realistis saja, kalau ketiganya mau dijadikan makanan khas yang dijual untuk orang lain apa ada yang mau ? Jawabnya tidak. Tetapi kalau mengolah singkong menjadi produk lain atau tempe benguk diolah menjadi produk lain itu bisa saja.
5. Merubah nama bukan hal yang mudah dan murah. Saya sih setuju saja, tetapi apakah tidak lebih baik kondisi masyarakat dulu yang dirubah, setelah besar dan ramai baru dinamakan ADI KARTO.

Sekian
Mas Niek


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: